Analisis Hukum dan Motif Jadi Senjata Pamungkas Jessica

Ketua tim penasihat hukum Otto Hasibuan menyimpulkan perkara kopi sianida tidak memenuhi aspek analisis hukum dan motif.

Warta Kota/Rangga Baskoro
Sidang kopi sianida di PN Jakarta Pusat. 

WARTA KOTA, KEMAYORAN-Persidangan ke-31 beragendakan pembacaan duplik berakhir. Ketua tim penasihat hukum, Otto Hasibuan, menyimpulkan perkara kopi sianida tidak memenuhi aspek analisis, hukum dan motif sehingga Jessica Kumala Wongso patut dibebaskan dari dakwaan. Otto berkesimpulan bahwa tidak ditemukan sianida di dalam tubuh Wayan Mirna Salihin.

"Ketika diperiksa setelah 70 menit dinyatakan tewas, tidak ditemukan kandungan sianida di dalam tubuh korban. Yang menyatakan sianida tidak ada di dalam lambung Mirna adalah Labfor Polri," tutur Otto saat membacakan kesimpulan duplik, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kemayoran, Kamis (20/10/2016).

Kemudian, berdasarkan hasil Labkrim Polri, di temukan terdapat sianida di dalam kopi, namun tidak demikian pada jenazah Mirna. Hal yang menjadi kesimpulan atas penjelasan tersebut adalah sianida dimasukkan ke dalam es kopi vietnam pasca Mirna tewas.

"Pertanyaan ini hanya dijawab Robertson (ahli toksikologi pihak Jessica). Kita tidak bisa mengabaikan ada sianida di dalam kopi dan kita juga tidak bisa mengabaikan tidak ada sianida di dalam lambung mirna. Kalau ada sianida sebelum diminum pasti ada sianida di tubuh korban," ujarnya.

Kemudian, secara analisis, 0,2 miligram kandungan sianida di dalam lambung Mirna merupakan post mortem.

"Adapun setelah 3 hari kemudian, ditumukan 0,2 miligram. Para ahli mengatakan itu bukan berasal dari mulut, karena pastilah pertama kali diperiksa ada di lambung Mirna."

"Peristiwa pasca kematian post mortem process karena sudah masuk embalming sehingga terjadi pembusukan atau mungkin karena makanan atau sianida alami," katanya.

Proses autopsi, menjadi hal yang esensial untuk mengungkap kematian Mirna yang diduga tewas karena terpapar sianida.

"Harus dipastikan denga cara autopsi. Semua ahli mengatakan, baik yang diajukan penuntut umum maupun penasihat hukum dan kepolisian juga mengatakan 'no autopsi, no crime'. Karena autopsi adalah satu-satunya alat yang bisa digunakan untuk mengetahui penyebab matinya korban," ucapnya.

Tidak adanya hasil visum menyebabkan analisis mengenai penyebab kematian korban menjadi tidak jelas.

Halaman
123
Editor: Max Agung Pribadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved