Minggu, 12 April 2026

Pemilukada DKI Jakarta

LSI Tepis Hasil Survei Bahayakan Keutuhan Bangsa

LSI pimpinan Denny JA, menepis tuduhan karena hasil survei dianggap membahayakan keutuhan bangsa.

Jessi Carina/Kompas.com
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. 

WARTAKOTA, MENTENG - Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pimpinan Denny JA, menepis tuduhan karena hasil survei dianggap membahayakan keutuhan bangsa.

Peneliti LSI Adjie Alfarabie mengatakan, jika hasil survei dipersepsikan untuk menggiring opini, maka dapat dikatakan LSI membahayakan keutuhan bangsa.

"Tapi lembaga survei ini ketika mempublish datanya, kembali ke media untuk menyajikan data. Pengalaman kita, data survei yang disajikan kadang suka beda yang ditampilkan sama berbagai media," jelas Adjie, di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (8/10).

Oleh sebab itu, menurutnya para stake holder berperan sangat penting. Masyarakat diharapkan dapat memahami secara ilmiah hasil survei.

"Sehingga masyarakat dalam merespon hasil survei dapat secara bijak," imbuhnya.

Terkait isu Agama, kata Adjie, belajar dari negara maju seperti di Amerika Serikat, diskusi sosial mengenai sosiologis perilaku pemilih dianggap bukan hal tabu.

"Soal sosiologis dalam perilaku pemilih itu bukan hal yang dilarang, dalam teori ilmu politik itu semuanya ada," kata Adjie.

Adjie merinci, ada tiga perilaku pemilih seperti pemilih rasional, agama, dan psikologis.

"Jadi soal agama itu bukan hal yang dilarang, Kecuali LSI kampanyekan isu SARA, kita kan memotret pengaruh SARA di dalam pilkada DKI," tegasnya.

Ia berharap masyarakat dan Paslon Cagub-cawagub DKI, tidak terpengaruh isu SARA.

"Ini merupakan suatu isu besar di tengah kita membangun sistem demokrasi tapi di publik masih ada sentimen. Orang memilih kandidat itu bukan hanya kinerja, ada berapa banyak faktor yah, seperti personalitas dan primordialnya," tandasnya.

Dalam survei yang dirilis LSI mengenai segmen agama, pasangan Ahok-Djarot berada di titik kritis. Di kalangan pemilih non Muslim, Ahok unggul di atas 80 persen. Namun di pemilih Muslim, Ahok merosot di bawah 30 persen.

Hanya karena pemilih Muslim punya dua cagub Muslim, suara terbagi. Di putaran kedua, porsi besar pemilih Muslim ini bersatu melawan Ahok. Sementara porsi pemilih Muslim total sekitar 90 persen.

Pasangan Ahok dipilih pemilih muslim (beragama Islam) sebesar 27,7 persen, dan pemilih non-muslim(agama Kristen, Protestan, Budha, Hindu) sebesar 83,3 persen.

Sedangkan, pasangan Anies-Uno dipilih pemilih muslim sebesar 22,8 persen, dan pemilih non-muslim hanya memperoleh angka dibawah margin error (kurang lebih 4,8 persen).

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved