Selasa, 21 April 2026

Koran Warta Kota

Mutmainah Mutilasi Anaknya karena Pengaruh Ilmu Hitam?

Mutmainah alias Iin (28), pemutilasi anak kandungnya sendiri di Cengkareng, Jakarta Barat, Minggu (2/10/2016) malam, tetap belum mengakui perbuatannya

Halaman pertama harian Warta Kota yang terbit pada hari ini, Rabu (5/10/2016). 

Awi menambahkan kemungkinan Mudmainah menderita baby blues syndrome sehingga melakukan aksi kejinya itu kepada anaknya. Polisi masih belum bisa memastikannya.

Kondisi Aipda Deni Siregar sendiri saat ini kondisinya masih shock berat sehingga belum bisa diperiksa.

Dia pun saat ini tinggal menumpang di kediaman Kapolsek Tanjung Duren, sebab rumahnya sampai sekarang masih diberikan garis polisi.

"Belum karena masih kedukaan dan kondisi psikologisnya juga belum memungkinkan, tetap nanti kita periksa, cuma tinggal tunggu waktu saja. Masalahnya itu kan, apa yang sebenarnya terjadi dengan pelaku, kenapa jiwanya bisa sampai begitu," tutur dia.

Awi menambahkan, meski kasus yang dialami Aipda Deni itu merupakan kasus kejahatan kemanusiaan berupa pembunuhan, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M Iriawan pun tetap memberikan atensinya pada kasus tersebut. Apalagi, kasus tersebut menimpa sesama anggota keluarga Polisi.

"Melalui Kabid Propam kita atensi ya karena memang ini keluarga kita. Anaknya nanti kita beri perawatan sepenuhnya untuk trauma healing, termasuk ini kan istrinya kita beri perawatan (kejiwaan). Apa yang bisa kita bantu, kita bantu," kata Awi.

Tertawa sendiri

Kondisi terakhir Mudmai­nah, kata Wahid, kakak Mudmainah, masih mengkhawatirkan. Perempuan itu masih suka tertawa-tawa sendiri di RS Polri Kramat Jati, Selasa (4/10/2016).

Sang kakak menceritakan, siang kemarin dia menemani adiknya dan kondisinya masih aneh.

"Kadang sadar dan kadang tidak. Dia masih suka tertawa-tawa sendiri," kata Wahid.

Mudmainah juga masih mendapat suntikan obat penenang dari dokter. Seorang psikiater pun datang menangani Mudmainah. Menurut Wahid, psikiater itu hanya mau menangani Mudmainah sendirian.

Oleh psikiater itu, Mudmainah diajak masuk ke sebuah ruangan khusus. Tak ada jam di ruangan itu. Hanya ada sebuah sofa. Ruangannya sejuk dan santai, serta wangi.

Awalnya beberapa polisi, keluarga dan sejumlah perawat sempat berada di dalam ruangan itu.

Tapi psikiater itu menyuruh mereka semua keluar. Sebab dia hanya mau berbicara berdua dengan Mudmainah.

"Sekitar lima belas menit psikiater itu di dalam, lalu dia keluar dan tak bicara apapun. Kami pun (keluarga) tak diberitahu apa yang dilakukan," kata Wahid. (ote/bin/m9)

Sumber: WartaKota
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved