Citizen Journalism
Perlu Perhatian Serius Pendidikan Vokasi Kita
Kita semua paham bahwa kekuatan terbesar sebuah bangsa dan negara, terletak pada sumber daya manusia.
WARTA KOTA, PALMERAH -- Kita semua paham bahwa kekuatan terbesar sebuah bangsa dan negara, terletak pada sumber daya manusia. Kekayaan sumber daya alam merupakan karunia yang sudah melekat, sehingga bersifat asali.
Berbeda kondisinya dengan sumber daya manusia yang akan menjadi aktor dari kerangka pembanguanan sebuah negara maupun bangsa. Oleh sebab itu, pembentukan manusia unggul memerlukan upaya yang sistematis di segala bidang, dengan tulang pokok pada kerangka pendidikan.
Pendidikan sebagaimana diibaratkan oleh Nelson Mandela adalah senjata yang teramat dahsyat karena kemampuannya merubah dunia.
Dikarenakan hal itu pula maka, format dari bentuk pendidikan nasional memang harus lebih ditekankan pada upaya yang terstruktur dalam membangun kualitas sumber daya manusia, sehingga pada abad kompetisi antarbangsa kita akan mampu bersaing secara setara.
Dalam kerangka bentuk pendidikan nasional, khususnya di perguruan tinggi, maka yang tidak dapat dihindarkan dari tujuan untuk mencapai kualitas manusia unggul tadi adalah pendidikan vokasi.
Di dunia pendidikan tinggi, pendidikan yang berfokus pada keahlian terapan tersebut dikelompokan sebagai institusi akademi, termasuk di ranah kesehatan terdapat keperawatan, kebidanan dll.
Pertanyaan dasarnya, mengapa dibentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian terapan? Hal ini tentu sejalan dengan kondisi praktis, yang menjembatani dunia pendidikan dari kebutuhan riil di tingkat industrinya.
Tersebab oleh hal itulah, maka pendidikan vokasi atau keahlian terapan menempatkan format pendidikan, dengan memperbanyak aspek praktik lapangan.
Berlatih merupakan bagian dari pembelajaran yang diharapkan secara selaras dapat meningkatkan aspek knowledge (pengetahuan) dan skill (keterampilan), sebagai dimensi dari kompetensi di dunia industri.
Konsepsi link and match sesungguhnya dapat diterjemahkan dalam pendidikan vokasi. Dimana dunia industri mendapatkan tenaga terampil serta terlatih yang siap bekerja, mereduksi biaya pelatihan ulang yang perlu disiapkan oleh industri bila merekrut tenaga tidak terlatih. Namun kondisi ini, tidak sepenuhnya terjadi sesuai dengan kondisi aktual pada pendidikan vokasi di Indonesia.
Paradoks gelar akademik
Kesempatan pendidikan vokasi untuk menawarkan diri sebagai tempat yang memberikan keterampilan dan keahlian terapan, nampaknya belum diakseptasi dalam persepsi bahwa pendidikan akademi memberikan kemudahan untuk diserap oleh industri.
Hal itu, disebabkan oleh miskonsepsi di masyarakat luas akan gelar akademik. Kondisi aktual dalam masyarakat modern kita saat ini masih menempatkan pencapaian gelar akademik sebagai indikasi keberhasilan, bukan pada kemampuan yang terbukti.
Maknanya, asumsi yang terbentuk di publik akan jenjang strata pendidikan kita bahwa S2 lebih bergengsi dari S1, dan D3 hanya pelengkap penderita, tidak sepenuhnya benar, meski banyak juga yang perlu dibenahi dalam dunia pendidikan vokasi kita.
Terbilang penyelenggara pendidikan kesarjanaan S1 dan S2 begitu massif melakukan promosi kemudahan pendidikan termasuk pembiayan, sementara pendidikan vokasi masih tertatih untuk menutupi pembiayaan dalam proses pendidikan yang memerlukan biaya pelatihan lebih banyak.
Lebih jauh lagi, pendidikan vokasi di Tanah Air masih minim dalam kepemilikan infrastruktur yang terintegrasi dengan ranah pendidikan yang dikelolanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20150817empat-kampus-negeri-berubah-stastus-jadi-ptn-berbadan-hukum_20150817_125852.jpg)