Sabtu, 18 April 2026

Jalan Kepanduan II Kalijodo Digaris Polisi, Warga Dilarang Keras Melintas

Beberapa warga dan pengendara yang ingin merasakan mulusnya jalan itu pun dihadang beberapa petugas keamanan setempat yang tengah bersantai

Warta Kota/Panji Baskhara Ramadhan
Jalan Kepanduan II Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara, yang digaris polisi, Rabu (24/8). 

WARTA KOTA, PENJARINGAN -- Jalan Kepanduan II yang berlokasi di sebuah lahan yang dahulunya dikenal warga marak akan aktivitas prostitusi, dan premanisme, yakni Kalijodo kini nampak mulus.

Ironisnya, jalan dengan panjang kisaran satu kilometer yang sudah dipakai oleh warga setempat dan pengendara lainnya, kini sudah ditutup dengan bambu, bahkan diberikan garis polisi.

Nampak sejumlah batang bambu dengan dililit garis polisi, menutup jalan yang diketahui dapat menghubungkan para pengendara atau warga setempat mengarah ke wilayah yang berbatasan langsung dengan salah satu kecamatan di Jakarta Barat, yakni Tambora.

Hingga kini, belum diketahui apa maksud dan tujuan, serta oknum yang menutup jalan yang dahulunya dijadikan sebagai akses utama para warga, Pekerja Seks Komersial (PSK), hingga para pria hidung belang ke tempat hiburan malam.

Tak hanya itu, apabila melintas di Jalan Kepanduan I dan mengarah ke Jalan Kepanduan II yang berbatasan dengan Kecamatan Tambora pun juga ditutup dengan kayu dan bambu, hingga diberi garis polisi.

Tertutupnya jalan tersebut membuat banyak warga atau pengendara bertanya-tanya sehingga dengan sengaja ingin melihat perkembangan proyek pembangunan Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (RPTRA) yang dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, dengan melintas di Jalan Kepanduan II.

Namun, beberapa warga dan pengendara yang juga ingin merasakan mulusnya jalan itu pun dihadang beberapa petugas keamanan setempat yang tengah bersantai di sebuah pos keamanan, yang berdiri di lahan eks Kalijodo tersebut.

"Buta ya mas? Kan ada bambu sama garis polisi nutup jalan ini? Ya tandanya jangan dilintasi. Ngapain lewat sini. Lewat seberangnya (Jalan Kepanduan I) saja. Jangan lewat-lewat sini. Sudah tidak boleh," ucap pria berkepala botak dan berbadan kekar itu, Rabu (24/8).

Tak lama, sekelompok anak-anak yang diketahui warga yang tinggal tak jauh dari Kalijodo juga turut terkena semprotan aparat yang ada di posko tersebut.

Nada tinggi dan mata yang melotot, sejumlah anak-anak yang mengendarai sepeda dan ingin masuk ke Jalan Kepanduan II pun sontak ciut.

"Hei! Enggak boleh lewat sini! Sana! Jangan main di sini. Wilayah proyek enggak boleh jadi tempat main. Kalau mau main jangan di sini!" bentak pria itu kembali ke sejumlah anak-anak.

Kala itu, Warta Kota ingin mencoba berjalan kaki di jalan yang kini sudah mulus yang kelak akan menjadi akses utama RPTRA Kalijodo. Tetap saja, petugas di posko keamanan itu kembali meneriaki dan datang dengan wajah yang terbilang cukup tegang.

"Mas ngerti enggak namanya garis polisi? Ini kan jalan sudah ditutup, itu artinya gak boleh dilintas. Di sini juga enggak boleh foto-foto juga gak mas. Nanti saja. Wilayah proyek mas soalnya. Jangan masuk-masuk," jelas pria bertubuh kekar lainnya.

Kisaran lima orang pria dengan wajah tidak senang tetap memaksa agar Jalan Kepanduan II yang sempat dapat dilintasi, kini tak menjadi larangan keras untuk dilintasi.

Salah seorang pria dari pihak keamanan dari posko itu menyatakan Jalan Kepanduan II akan dapat dipakai jika pembangunan RPTRA rampung.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved