Citizen Journalism
Mencintai yang Bukan Milik?
Lalu, mengapa ada manusia yang gemar mencintai yang bukan milik?
WARTA KOTA, PALMERAH -- Mencintai yang bukan milik. Itulah kalimat yang dapat mendeskripsikan kondisi terkini keberadaan manusia di Indonesia (juga dunia) dalam menjalani kehidupannya, tidak terkecuali dari mulai manusia yang belum mengenyam pendidikan hingga manusia yang terdidik.
Apa itu mencintai yang bukan milik? Tentu saya bukan akan berkisah tentang sesorang yang memaksakan kehendak cintanya pada seseorang yang tidak mencintai alias bertepuk sebelah tangan.
Di seluruh cabang dan bidang kehidupan, mencintai yang bukan milik seolah menjadi orchestra yang mengalun indah, tanpa ada yang bisa mencegah. Hingga lahir manusia yang miskin hati, namun nafsu harta dan dunia seolah mau hidup di dunia selamanya. Mengapa ini terjadi?
Padahal bila kita kaji secara ilmiah, semakin dalam kajian kita, semakin tersingkap rahasia dan keajaiban dari penciptaan alam yang tertata dengan rapi, tidak secuil pun noktah yang terlepas dari perencanaan matang Sang Khalik.
Semua unsur saling berkolaborasi membangun keseimbangan dan keharmonisan tanpa memandang ukuran besar atau kecil, tinggi atau rendah, semuanya bernilai penting dalam membangun tatatan kehidupan yang seimbang, konsisten, dan teratur. Tidak untuk berebut saling merasa memiliki.
Lalu, mengapa ada manusia yang gemar mencintai yang bukan milik? Tengok kejadian kebakaran hutan, sungai yang hitam, boraks, zat pewarna pakaian yang dicampurkan pada makanan, krisis air bersih, banjir, perubahan iklim, efek gas rumah kaca serta polusi udara, serum palsu, BPJS palsu, narkoba yang bahkan tidak pernah membuat jera meski hukuman mati bagi pelaku narkoba sudah terjadi dan terbukti.
Semua itu adalah contoh maraknya keserakahan manusia karena mencintai yang bukan milik. Tidak hanya itu, krisis ekonomi, kolusi, korupsi, dan nepotisme sulit diberantas karena caranya makin lama makin halus dan masif, meski KPK juga tidak kalah gesit. Ini semua adalah bukti keserakahan dan ketidakpedulian manusia yang justru telah terdidik dan tetap menciderai keberlangsungan hidup bersama. Inikah wujud nyata produk pendidikan kita selama ini?
Ada apa dengan dunia pendidikan kita? Bagaimana dengan nawacita revolusi mental? Apakah juga karena P4 tidak lagi diajarkan?
Bukankah sekolah tidak pernah mengajari yang jelek kepada muridnya? Lalu, mengapa setelah dewasa apa yang dipelajari semasa sekolah seperti tidak ada yang tersisa?
Contoh sederhananya, tengok ketika jalan-jalan di Jakarta macet oleh mobil dan motor. Dari rakyat jelata, hingga kaum elit, bahkan mobil pejabat yang berpengawal, dari masyarakat tak terdidik hingga terdidik, apakah ada perilaku yang berbeda? Semua ingin lebih dulu, semua ingin saling serobot, ada sumpah serapah, karena saling menguasai jalur pengendara yang bahkan berlawanan arah.
Di manakah ada pelajaran yang mengajarkan kepada mereka untuk jangan mencintai jalur jalan raya yang bukan hak miliknya? Manusia terdidik dan tak terdidik dalam kasus tersebut, bersikap sama saja. Siapa yang dirugikan? Siapa yang diuntungkan dari membludaknya kendaraan roda empat dan roda dua di Jabodetabek khususnya, produsen kendaraan? Pemerintah daerah karena pajak? Lalu ada sistem ganjil genap?
Yang lebih ironis, kasus dana sertifikasi guru. Sejak adanya anggaran serifikasi guru, para pejabat yang bersangkutan, gemar sekali menahan cairnya dana sertifikasi guru yang seharusnya masuk rekening para guru tepat waktu.
Namun dengan berbagai dalih, pencairan anggaran tersebut hampir selalu tidak tepat waktu. Ke mana dana selisih bunga bank itu, padahal dana sertifikasi guru jumlahnya miliaran rupiah?
Hidup ini ibarat belantara. Tempat kita mengejar berbagai keinginan. Dan memang manusia diciptakan mempunyai kehendak, mempunyai keinginan. Tetapi tidak setiap yang kita inginkan dapat dikecap, tidak setiap yang kita inginkan boleh tercapai. Dan tidak mudah menyadari bahwa apa yang bukan menjadi hak milik kita tidak perlu kita kuasai bahkan kita tangisi.
Banyak orang yang tidak sadar bahwa hidup ini tidak mempunyai aturan, yaitu harus berjaya, harus bahagia atau harus-harus yang lain. Banyak orang yang berjaya tetapi lupa bahwa asal itu semua pemberian Allah hingga membuatkannya sombong dan bertindak sewenang-wenang.