Koran Warta Kota

Orangtua RA Pucat Anaknya Dihukum 10 Tahun

Wajah Nayudin (39) pucat pasi. Kepalanya tertunduk lemas usai mendengar anaknya, RA (16) dinyatakan terlibat dalam pembunuhan Enno Farihah.

Editor: Suprapto
Warta Kota/Banu Adikara
Sejumlah orang melakukan aksi demo di luar Pengadilan Negeri Tangerang, usai majelis hakim Pengadilan Negeri Tangerang menjatuhkan hukuman penjara selama 10 tahun kepada RA (16), remaja pembunuh Enno Farihah (19), Kamis (16/6). 

WARTA KOTA, TANGERANG— Wajah Nayudin (39) pucat pasi. Kepalanya tertunduk lemas usai mendengar anaknya, RA (16) dinyatakan bersalah dan terlibat dalam pembunuhan Enno Farihah. "Astaghfirullah," kata Nayudin dengan wajah sedih. Badannya terlihat lemas, seperti kehilangan semangat.

Selama tiga jam sidang vonis RA berjalan, tangan kiri Nayudin terus menggenggam tangan kanan putra pertamanya itu. Mulutnya terus berkomat-kamit, membaca doa, berharap anaknya lolos dari jeratan hukum. RA sendiri nampak pasrah. Wajahnya datar. Matanya menatap nanar wajah para majelis hakim yang membacakan berkas kasusnya. Apa daya, majelis hakim Pengadilan Negeri Tangerang memutuskan bahwa RA secara sah dan meyakinkan terlibat dalam pembunuhan Enno.

RA juga terbukti melanggar Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana terhadap Enno, yang dilakukan bersama dua orang lainnya, Rahmat Arifin (24) dan Imam Hapriadi (24) pada tanggal 13 Mei lalu di mes karyawan PT Polyta Global Mandiri, Desa Jatimulya, Kosambi, Kabupaten Tangerang.

Nayudin dan RA pun meninggalkan ruang sidang dengan diiringi seruan dan hujatan para penonton sidang yang bersimpati pada Enno.

Seperti diberitakan sebelumnya, RA dituduh terlibat dalam aksi pembunuhan dan pemerkosaan sadis seorang perempuan bernama Enno di mes karyawan, di Tangerang.

Walau hakim sudah memaparkan secara gamblang bahwa air liur dan sidik jari RA ada di lokasi kejadian di tubuh Enno, Nayudin tetap yakin anaknya tidak bersalah. "Saya nggak rela. Saya nggak rela anak saya dipenjara," ujarnya.

Nayudin tetap kukuh bahwa RA pada malam kejadian sedang tidur di sebelahnya. "Gimana caranya mau bunuh, orang dia ada di sebelah saya. Saya sumpah mati. Itu yang terjadi," katanya.

Nayudin juga menuturkan bahwa ponsel Prince putih milik Enno didapatkan RA dari Dimas, pria yang disebut sebagai aktor intelektual di balik pembunuhan Enno. "Si Dimas ini yang jual HP ke anak saya. Bukan anak saya yang colong. Ini bulan puasa. Saya tidak bohong, " katanya.

Nama Dimas pernah disebut saksi Rahmat Arifin, meski kemudian diralat oleh yang bersangkutan. Keterlibatan Dimas dalam kasus ini pun akhirnya diabaikan oleh majelis hakim.

"Nama Dimas memang pernah disebut saksi mahkota Arifin. Namun, polisi tidak pernah menemukan dan memeriksa orang bernama Dimas. Jadi, Dimas tidak ada korelasinya dengan kasus ini," kata Ketua Majelis Hakim RA Suharni. (kar)

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved