Kamis, 9 April 2026

Pasca Disandera Kelompok Abu Sayyaf, Kapten Rian Bakal kembali Melaut

Rian bakal tetap berangkat melaut pada bulan depan. Sebat pelaut merupakan cita-cita Rian sejak masih anak-anak.

Penulis: Fitriyandi Al Fajri |
Thejakartapost.com/Associated Press
Para anggota militan Abu Sayyaf di hutan Filipina. 

WARTA KOTA, BEKASI - Pihak keluarga Kapten Moch Arianto Misnan alias Rian (23) melarang dirinya untuk melaut pasca ditawan oleh kelompok militan Abu Sayyaf di Filipina. Namun, Rian bakal tetap berangkat melaut pada bulan depan. Sebat pelaut merupakan cita-cita Rian sejak masih anak-anak.

"Ayah saya juga pelaut, jadi pelaut juga cita-cita saya mengikuti ayah. Bulan ini istirahat dulu di rumah, bulan depan melaut lagi," ujar Rian, kapten Kapal TB Henry saat ditemui di rumahnya daerah Rawalumbu, Kota Bekasi pada Senin (16/5).

Rian merupakan kapten kapal TB Henry milik PT Global Trans Energy Internastional Grahabaramukti yang berdomisili di Harmoni, Jakarta Pusat.

Rian bersama tiga anak buah kapal (ABK) di kapal itu ditawan saat berlayar di perairan Internasional Tawi-Tawi, perbatasan Malaysia dengan Filipina pada Jumat, 15 April 2016 lalu.

Sebetulnya, kapal pengangkut batubara itu bisa saja tidak dibajak, apabila kepulangan mereka ke Indonesia dari Filipina kembali dikawal oleh kapal perang Indonesia.

Sementara enam ABK lainnya tak disandera, karena mereka bersembunyi di ruang mesin. Untungnya, Rian dan tiga ABK itu dibebaskan pada Rabu (11/5) lalu.

Rian mengungkapkan, sebetulnya perusahaan tempatnya bekerja tak mempersoalkan bila dia cuti sampai batas waktu yang tak ditentukan.

Dengan alasan, untuk memulihkan beban psikologis Rian pasca disandera kelompok militan itu.

"Nggak kapok melaut, jadi bulan depan sudah siap melaut, yah mungkin rutenya yang dekat-dekat dulu ke Malaysia," jelasnya.

Rian menghargai dengan keinginan sang ibu, Melati Ginting (52) yang meminta Rian bekerja dulu di darat pasca ditawan.

Akan tetapi, kata dia, selepas SMP dia sudah dipersiapkan untuk menjadi pelaut dengan mengikuti sekolah pelayaran.

Oleh sebab itu, dia bakal menerima segala konsekuensi yang terjadi di atas kapal.

Rian bercerita, selama menjadi sandera bersama dengan tiga temannya, dia mengaku makan seadanya yang diberikan oleh kelompok Abu Sayyaf.

Bahkan, mereka tidur tanpa alas apapun di hutan belantara.

Setiap hari, kelompok yang berjumlah sekitar 200 orang tersebut selalu pindah-pindah menghindari gempuran militer Filipina.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved