Citizen Journalism

Meneladani RA Kartini, Mulailah dari Diri Sendiri

Raden Adjeng Kartini sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia

Meneladani RA Kartini, Mulailah dari Diri Sendiri
Dok. Kompas/Istimewa
Raden Ajeng Kartini 

WARTA KOTA, PALMERAH - Raden Adjeng Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879, dan meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun. Raden Adjeng Kartini sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia.

Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi dan oleh pemerintah Indonesia, ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional pada tahun 1964. Sementara hari lahirnya ditetapkan sebagai Hari Kartini.

Sudah menjadi budaya, selama 52 tahun, Hari Kartini, di berbagai daerah diperingati dengan cara menggunakan baju adat daerah-daerah yang ada di Indonesia. Apakah ada relasi antara baju adat dan perjuangan RA Kartini itu sendiri?

Kalau hanya memperingati kebaya yang dipakai RA Kartini juga tak punya makna apa-apa, karena tidak ada makna sejarah, makna politik ataupun makna apapun juga. Lagipula, bukan orang Jawa saja yang memakai kebaya.

Suku-suku lain juga memakai kebaya. Kalau suku-suku lain harus memperingati hari Kartini dengan memakai kebaya Jawa, tentu tidak relevan.

Sebaliknya, kalau suku-suku non-Jawa harus memakai kebaya daerah masing-masing, juga tidak relevan. Kalau hanya wanita Jawa saja yang memperingati Hari Kartini dan berkebaya Jawa, tentu tidak nasionalis.

Kebaya merupakan wilayah Logika Budaya. Lalu apa bedanya Hari kartini dengan Hari Ibu?

Sejarah Hari Ibu diawali dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, di gedung Dalem Jayadipuran. Kongres dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera.

Hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Organisasi perempuan sendiri sudah ada sejak 1912, diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Dhien, Tjoet Nyak Meutia, RA Kartini, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, dan lain-lain.

Halaman
123
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved