Jumat, 10 April 2026

kuliner

Yuk, Cobain Gurihnya Sate Maranggi Campur Lemak di Tajur

Pecinta kuliner di seputaran Bogor kini tak perlu jauh-jauh ke Purwakarta untuk bisa merasakan nikmatnya sate maranggi, yaitu sate daging sapi

Penulis: |
Warta Kota/Ichwan Chasani
Menu sate maranggi (kanan) dan menu tambahan sop iga (kiri) yang patut dicoba pecinta kuliner di kedai Sate Maranggi di Jalan Raya Tajur, Bogor Timur, Kota Bogor. . 

WARTA KOTA, PALMERAH - Pecinta kuliner di seputaran Bogor kini tak perlu jauh-jauh ke Purwakarta untuk bisa merasakan nikmatnya sate maranggi, yaitu sate daging sapi yang diolah lebih dulu dengan aneka bumbu.

Sejumlah kedai Sate Maranggi dapat ditemui di Jalan Raya Tajur, Bogor Timur, Kota Bogor.

Satu kedai yang menjadi favorit dan selalu ramai dikunjungi adalah Sate Maranggi SN4444.

Berada di halaman toko busa, tepatnya nomor 289, warung sate pinggir jalan ini mudah dijangkau.

Lokasinya persis berada di samping Teras Air. Jika kendaraan melaju dari Kota Bogor mengarah ke Ciawi, warung sate ini terletak sebelum Teras Air.

Iqbal Syukur Alwan, lajang berusia 27 tahun mengaku awalnya hanya iseng membuka lapak sate maranggi pada April 2014 lalu.

Awalnya hanya ada dua meja dan delapan kursi, namun kini dengan semakin banyaknya pengunjung, disediakan 20 meja masing-dengan kapasitas total hingga 80 orang.

“Nama SN4444 itu singkatan dari serial number, itu untuk membedakan dengan sate maranggi yang lain. Kebetulan saya lulusan D3 IT, jadi sering ketemu istilah serial number. Kalau nomor 4444 itu biar gampang ingetnya,” beber Iqbal.

Iqbal menyebut sate maranggi jualannya itu berbeda dengan sate maranggi lainnya karena kiblatnya ke Cianjur, bukan Purwakarta.

Ciri khasnya, sate maranggi itu lebih enak disantap dengan uli bakar dan sambel oncom. Meski demikian, bagi pengunjung yang enggan menyantap sate itu menggunakan uli bakar, bisa menikmatinya dengan nasi panas.

“Bedanya dengan sate maranggi Purwakarta, disana agak kering, kalau disini basah. Jadi disini rasanya lebih manis dan lebih terasa bumbunya. Daging sapinya diproses dengan bumbu dulu di awal, seperti dibacem, baru nantinya finishing dengan bakaran,” beber Iqbal.

Pria yang sudah bertitel haji ini menyebut, sate maranggi itu adalah resep keluarga dari jalur ibunya.

Bumbunya rempah-rempah biasa, serupa dengan bumbu dendeng. Daging sapi itu diolah dulu di rumahnya sejak pagi hingga siang hari.

Rata rata setiap harinya mereka menyiapkan 1000-1500 tusuk. Khusus malam Minggu dan malam Senin jumlahnya lebih banyak, bisa dua kali lipat dari hari biasa.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved