Derita Warga Tidak Mampu, Penderita Hipospadia Diabaikan RSCM

Derita korban bertambah berat karena diabaikan RSCM.

Derita Warga Tidak Mampu, Penderita Hipospadia Diabaikan RSCM
Kompas.com
Ilustrasi. Loket pendaftaran pasien RSCM. 

WARTA KOTA, MENTENG -- Seorang penderita kelainan kelamin bertambah menderita.

Merasa sendiri dan rendah diri, hal tersebut banyak dialami oleh penderita hipospadia atau kelainan kelamin, seperti halnya Wahyu Setiawan (20) warga Jalan Bali Matraman RT 01/05 Manggarai Selatan, Tebet, Jakarta Selatan. Namun, seperti diabaikan, Wahyu tidak kunjung mendapatkan penindakan walau Beragam cara telah dilakukan untuk menjadikan Wahyu kembali normal.

Kelainan alat vital yang dialami adik bungsunya itu diungkapkan Agus Kurniawan (30) Kakak kandung Wahyu sudah diketahui sejak adik bungsunya lahir. Kala itu, anak dari pasangan almarhum Safi'i dan almarhum Maryani itu diketahui mengalami kelainan fisik yakni tidak memiliki anus atau saluran pembuangan air besar.

Karena itu, lanjutnya, sesaat dilahirkan, sang adik kemudian dibawa ke ruang operasi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk menjalani pembuatan anus. Operasi yang berjalan sekira beberapa jam tersebut dinyatakan berhasil, wahyu dinyatakan sehat oleh tim medis dengan lubang anus baru.

Namun, seiring dengan bertambahnya usia wahyu, tahun demi tahun berlalu, terjadi pertumbuhan tidak wajar pada alat kelamin adiknya tersebut. Tidak hanya diketahui penis dengan testis yang menempel menjadi satu, pertumbuhan penis adiknya tersebut pun berbeda dengan pria normal.

"Saya ngerti bener perasaan adik saya, dia itu minder karena tidak normal. Itu juga jadi alasan dia semakin tertutup sama orang, setiap hari di rumah, nggak mau sosialisasi," ungkapnya.

Karena penyakit tersebut, adiknya pun diketahui memutuskan untuk berhenti sekolah sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) As Safiyah Manggarai Selatan. Lantaran sejumlah teman sekolah sering mengejek adiknya setiap hari.

"Saya ingat betul waktu adik saya mau disunat, ukurannya (penis-red) memang nggak seperti orang normal, adik saya akhirnya nggak jadi disunat. Saya sebagai kakak merasa prihatin, saya sudah urus semua tahapan mulai dari puskesmas sampai rumah sakit, tapi sudah empat tahun ini belum juga ditangani," jelasnya.

Tahapan tersebut disampaikannya mulai dari pendaftaran adiknya dalam program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Mandiri hingga pemeriksaan di Puskesmas Kecamatan Tebet, Rumah Sakit Budi Asih hingga RSCM sejak akhir tahun 2011 silam. Tetapi tindakan berupa operasi yang dianjurkan oleh dokter spesialis urologi RSCM belum juga dilakukan hingga kini.

"Saya mohon kepada siapa saja untuk bisa bantu adik saya, karena siapa yang nggak mau hidup normal, punya istri, anak dan hidup yang lebih baik. Saya cuma mau adik saya sehat," tutupnya sedih.

Sementara itu, Kepala Humas Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Sulastin menyampaikan bila pihaknya akan melakukan pemeriksaan data maupun kesehatan pasien tersebut. Sebab, lanjutnya, tindakan berupa operasi, khususnya penanganan penyakit hipospadia harus melewati prosedur yang panjang.

"Kami akan telusuri dulu apa yang menjadi kendala pasien, karena memang dibutuhkan beberapa tindakan sebelum dilakukan operasi. Kami akan periksa rekam mediknya dan status pasien, apakah termasuk umum atau peserta BPJS, tapi yang jelas semua pasien akan ditangani oleh RSCM," jelasnya.

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved