Rabu, 15 April 2026

Kisah Maryati Petugas Taman Kota

Aksi Berani Maryati Marahi Pendemo yang Merusak Taman Diberi HP oleh Gubernur DKI

Wajah Maryati, tampak sumringah. Sebuah bungkusan ponsel berada di genggaman tangannya.

Penulis: Mohamad Yusuf |
Warta Kota/Mohamad Yusuf
Maryati (55), PHL Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta 

WARTA KOTA, BALAIKOTA - Wajah Maryati, tampak sumringah. Sebuah bungkusan ponsel berada di genggaman tangannya.

Ia baru saja meninggalkan Gedung Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (23/3/2016).

Dimana saat itu, ia menerima sebuah ponsel Samsung Galaxy S5 yang diberikan langsung oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Pemberian ponsel itu bukan tanpa sebab. Ahok menilainya, wanita berusia 55 tahun itu, sebagai sosok pekerja keras dan mencintai pekerjaannya.

Pasalnya, Maryati diketahui, telah berani menegur bahkan memarahi para pendemo yang merusak taman di Jalan Medan Merdeka Selatan, tepat di depan Balai Kota.

Namun, Ahok yang mengetahui hal tersebut, mempertanyakan kenapa Maryati tidak foto para pendemo yang merusak tersebut. Agar pihaknya bisa segera menindak para pelaku itu.

Hingga akhirnya, Ahok memberikan sebuah ponsel baru Samsung Galaxy S5, kepada Maryati.

Saat itu, Maryati mengaku kaget bahwa dirinya dicari-cari oleh polisi.

"Tadi pagi saya dibilangin sama pak polisi, katanya saya dicariin Pak Gubernur. Dia mau ketemu saya. Saya awalnya takut, diomelin karena tamannya rusak diinjak-injak pendemo," kata Maryati ditemui di lokasi taman Jalan Medan Merdeka Selatan, Rabu (23/3/2016).

Namun, saat bertemu, ternyata justru Ahok memuji perbuatannya. Menurut Ahok, ia sebagai pekerja yang berani.

"Memang kalau lagi demo banyak tuh yang sering ngerusak. Pada nginjek-nginjek, buang air kecil, buang sampah makanan udah aja dilempar pas ngeriung-riung. Puntung rokok apa segala," katanya.

Menurut ibu tiga anak itu, ia sudah bekerja menjadi PHL Dinas Pertamanan dan Pemakaman (Distaman) DKI, sejak 17 tahun lalu.

Sebelumnya ia berdagang di Monas. Namun, kemudian bekerja sebagai petugas taman dengan gaji Rp 3.500 per hari.

Dia banting tulang menghidupi ketiga anaknya. Sementara, sang suami telah meninggal sejak 2009 lalu.

"Saya memang dari dulu suka sama tanaman. Di rumah saya juga tanama jeruk dan pandan," katanya yang tinggal mengontrak di Pondok Gede, Bekasi itu.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved