Konsultasi
Optimisme Atau Pesimisme
Baik optimistis maupun pesimistis sama-sama melihat adanya suatu permasalahan, hanya ada perbedaan pendapat apakah hal itu dapat ditangani atau tidak
Oleh Agustine Dwiputri
Pengertian optimisme dari kamus Merriam-Webster adalah perasaan atau keyakinan bahwa hal-hal baik akan terjadi di masa depan, dan yang kita harapkan akan terjadi. Dalam kehidupan, penggunaan istilah optimisme tidaklah sesederhana.
Ada kesalahpahaman yang perlu diluruskan sehingga seorang yang disebut optimistis akan memperoleh manfaat dan kebahagiaan.
Dapatkah kita membenarkan jika seseorang yang akan memperbaiki genteng pecah di rumahnya, hanya menaiki tangga untuk mencapai atap tanpa menggunakan tali pengaman di tubuhnya, dan ketika diperingatkan menjawab, ”Saya optimis saja?”
Rasanya itu bukan optimisme, melainkan sesuatu tindakan yang nekat atau sembarangan.
Optimisme merupakan hal yang baik untuk berbagai hal, tetapi pasti tidak akan memberi kesempatan seseorang untuk celaka, karena itu yang dilakukan orang tersebut adalah suatu optimisme yang irasional.
Shawn Achor (2011) mengartikan optimisme rasional sebagai ”penilaian yang realistis mengenai saat ini, dengan tetap mempertahankan keyakinan bahwa perilaku kita akhirnya akan menciptakan realitas yang lebih baik”. Dijelaskan adanya beberapa kesalahpahaman mendasar tentang peran optimisme.
Pertama, sebagai seorang yang disebut optimis, sebaiknya tidak menjadikan suatu penghinaan padanya.
Kita berusaha untuk mengatakan bahwa seseorang memiliki pandangan menyesatkan tentang realitas, yang didasarkan hanya pada keinginan, bukan bagaimana hal-hal sebenarnya.
Optimisme irasional akan menyebabkan penggelembungan keuangan, contohnya mengapa kita membeli rumah yang sebenarnya tidak mampu kita bayar, atau mengapa kita terlalu cepat menyatakan bahwa pekerjaan sudah selesai, padahal sama sekali belum dimulai.
Seorang optimistis irasional sesungguhnya mencoba untuk menutupi kondisi saat ini, tetapi tetap membuat keputusan untuk masa depan.
Ada pula orang-orang yang menjengkelkan. Orang itu berbicara tentang betapa hebatnya keuntungan perusahaan, sementara banyak pegawai yang dipecat, atau orang yang mengatakan ”Tenang saja” ketika ia muncul satu jam terlambat untuk menjemput Anda di bandara.
Orang seperti itu sebenarnya melecehkan arti sesungguhnya dari optimisme.
Kedua, ”Saya bukan pesimis atau optimis, saya seorang realis" adalah pernyataan yang tidak masuk akal.
Orang yang optimistis dan pesimistis sama-sama bisa membuat penilaian yang realistis saat ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20160229optimisme-atau-pesimisme_20160229_130242.jpg)