Citizen Journalism

Arti Seorang Sahabat

Malam itu malam paling mencekam dalam hidupku. Satu temanku kecelakaan parah dari sepeda motor.

Tribunnews.com
Ilustrasi pasien rumah sakit dirawat. 

WARTA KOTA, PALMERAH - Malam itu malam paling mencekam dalam hidupku. Satu temanku kecelakaan parah dari sepeda motor.

Awal cerita sore itu sepulang kerja aku mandi dan ingin tidur melepas lelah setelah bekerja. Baru sekejap memejamkan mata, handphoneku berbunyi ada pesan masuk bahwa aku harus mengambil dokumen penting di daerah Jatake.

Walaupun terasa lelah karena itu termasuk tugas mau gak mau aku akhirnya dengan sedikit malas pergi dengan motorku dengan hanya menggunakan kaos oblong tanpa lengan, padahal hari itu sudah menjelang malam tepatnya pukul 20.00 wib.

Tidak berapa lama sampailah aku di tempat yang dituju, dan menunggu temanku yang membawa dokumen tersebut. Sekitar satu jam aku menunggu akhirnya ketemu dan selesai juga tugasku mengambil dokumen itu.

Baru mau beranjak untuk pulang salah satu temanku menelepon mengajak untuk pesta di tempatnya. Dengan antusias aku meluncur ke tempatnya.

Sesampainya di sana sudah siap makanan juga minuman. Kami pun berbincang, bersenda gurau sampai larut malam.

Dikarenakan minuman sudah habis salah satu temanku mengajak untuk melanjutkan pesta di sebuah karaoke di daerah Tangerang. Berenam kami menuju tempat tersebut.

Begitu bahagianya teman-temanku bernyanyi, berjoget, melepas kepenatan seakan malam itu hanya mereka yang memiliki. Begitu indah pertemanan di saat itu.

Pukul 02.00 wib itulah awal petaka terjadi. Selesai dari tempat hiburan itu kami bermaksud untuk langsung pulang. Kami menuju tempat parkir mengambil sepeda motor dengan kondisi sedikit gontai karena pengaruh minuman yang kami minum.

Tiba-tiba salah satu temenku yang sedang menyetarter motornya roboh, dengan cepat kami bangunkan motor. Aku tanya ke dia, “kuat gak mas?” Dia bilang, “ga pa-pa kuat kok.”

Akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan untuk pulang. Baru 200 meter kami berjalan keluar dari tempat tersebut suara keras terdengar “Brakkkk.”

Ternyata temanku yang tadi jatuh, kembali jatuh persis di tengah jalan dengan kondisi penuh darah di wajahnya.

Dengan spontan aku menuju ke arahnya. Aku berusaha membangunkannya. Dia pingsan.

Begitu panik aku melihat kondisi temanku seperti itu. Aku hentikan sebuah mobil angkutan yang lewat untuk membawanya ke rumah sakit terdekat.

Setelah itu baru kusadari sekian banyak temen ga ada yang ikut, menolong ada apa dengan mereka? Sesampai di rumah sakit baru aku menelpon teman-teman yang lain.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved