Rabu, 20 Mei 2026

Preman Paling Besar di Kalijodo Sudah Pergi dan 'Mitos' Daeng Aziz

Nama Daeng Aziz kini dikenal mengerikan di Kalijodo. Tapi dia sebenarnya bukan preman terbesar di sana.

Tayang:
dok.Warta Kota
Kawasan Kalijodo, Pejagalan, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (9/2/2016) yang rencananya akan ditertibkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. 

WARTA KOTA, SEMANGGI - Nama Daeng Aziz kini dikenal mengerikan di Kalijodo. Tapi dia sebenarnya bukan preman terbesar di sana.

Preman paling besar di sana sudah pergi dari Kalijodo beberapa tahun sejak pertikaian besar antar kelompok disana tahun 2002 silam.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Krishna Murti, tahu betul itu.

Krishna pernah ikut melilit di kasus pertikaian itu. Sebab tahun 2002 silam dia menjabat Kapolsek Penjaringan di usia 32 tahun.

Pertikaian akhirnya selesai dibarengi penutupan rumah-rumah judi di Kalijodo oleh polisi.

Baca Juga: Kalijodo Dilanda Kerusuhan Antarmafia 14 Tahun Silam

Krishna menuliskan itu dalam bukunya berjudul 'Geger Kalijodo' yang terbit tahun 2004.

Buku itu merupakan penelitian ilmiah untuk tesis S2 Krishna di Kajian Ilmu Kepolisian Universitas Indonesia.

Krishna menggambarkan dua kelompok besar disana adalah Kelompok Makassar dan Mandar.

Kelompok Makassar dipimpin Daeng Aziz yang sampai kini masih menguasai Kalijodo dengan kharisma dan sisa-sisa cerita mengerikan.

Sementara kelompok Mandar, di tahun 2002 itu dikepalai oleh Yusman Nur.

Baca Juga: Inilah Dua Kelompok Mafia yang Kuasai Kalijodo

Dalam bukunya, Krishna menuliskan bahwa kelompok Asman lebih terorganisir dan banyak ketimbang kelompok Daeng Aziz.

Kelompok Yusman Nur memiliki struktur seperti sebuah organisasi yang memiliki 'tentara' dengan 'panglimanya' sendiri.

'Tentara' atau pasukan Yusman Nur ini dikenal sebagai 'Anak Macan' yang muncul karena jejak mengerikan mereka.

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved