Breaking News:

Konsultasi

Obat Kanker Murah, Mungkinkah?

Khusus untuk obat kanker, di negeri kita kebanyakan obat kanker masih dalam bentuk obat paten. Dengan demikian, harganya masih mahal.

Kompas.com
Ilustrasi. 

Oleh dr Samsuridjal Djauzi

Ibu saya menderita kanker kelenjar getah bening. Untuk itu beliau perlu menjalani kemoterapi.

Ternyata, harga obat kemoterapi amat mahal dan obat tersebut belum masuk dalam jaminan BPJS.

Setiap kemoterapi, kami anak-anak beliau harus mengumpulkan uang sekitar Rp 20 juta untuk obat kemo dan penunjangnya. Padahal, ibu harus menjalani kemoterapi berkali-kali.

Keadaan ini amat menyulitkan kami. Saya hanya dosen di sebuah universitas negeri dan adik saya memang pengusaha, tetapi usahanya sejak tahun lalu mengalami kelesuan.

Kami, masyarakat, amat berharap pada jaminan BPJS. Kami sekeluarga telah menjadi peserta.

Kami memahami BPJS belum sepenuhnya dapat membiayai pengobatan kanker. Namun, kami amat berharap harga obat kanker dapat terjangkau.

Kami mengikuti perkembangan obat AIDS dan hepatitis yang sekarang dapat dibeli dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan harga di negara asalnya.

Kenapa obat AIDS dan hepatitis dapat murah, sedangkan obat kanker masih mahal?

Mungkinkah harga obat kanker juga diturunkan, terutama untuk masyarakat yang berpenghasilan rendah?

Halaman
1234
Editor: Andy Pribadi
Sumber: KOMPAS
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved