Citizen Journalism
Antara Puisi Paman Doblang dan Kapsul Waktu
Ekspedisi Kapsul Waktu, merupakan gagasan unik pertama sepanjang sejarah di Indonesia untuk mengumpulkan impian masyarakat dari setiap provinsi
WARTA KOTA, PALMERAH - Untuk pertama kalinya, sejak Indonesia merdeka, ada kegiatan yang melibatkan anak bangsa dari Sabang hingga Merauke, bersama merajut impian. Kegiatan tersebut bernama Ekspedisi Kapsul Waktu.
Pada hari Rabu, 30 Desember 2015 lalu, Kapsul Impian telah diletakkan secara permanen di Monumen Kapsul Waktu Impian Indonesia (KWII), Merauke, oleh Presiden Jokowi.
Ekpedisi Kapsul Waktu digagas dalam rangka mewujudkan implementasi dari slogan Gerakan Ayo Kerja 70 Tahun Indonesia Merdeka’ yang dicanangkan oleh Presiden RI Joko Widodo.
Beberapa kementerian dan lembaga pemerintah pun antusias mendukung kegiatan ini. Setelah secara resmi mobil kapsul waktu dilepas Menteri Sekretaris Negara Pratikno pada 22 September 2015 lalu. Kemudian mobil itu mengelilingi 43 kota di 34 provinsi Indonesia selama 3 bulan/90 hari, menjelajah sejauh 24.089 Kilo meter (Km), ekspedisi KWII 2015-2085, dari ujung barat ke ujung timur Indonesia. Dan, akhirnya Kapsul Waktu sampai di Monumen KWII 30 Desember 2015.
Ekspedisi Kapsul Waktu, merupakan gagasan unik pertama sepanjang sejarah di Indonesia untuk mengumpulkan impian masyarakat dari setiap provinsi di Indonesia. Impian tersebut merupakan langkah awal sebagai motivasi untuk bekerja.
Di dalam kapsul waktu yang berbentuk kapsul berukuran sekitar 50 centimeter, berisi berbagai surat tentang impian dan harapan anak-anak tiap provinsi untuk negara Indonesia di masa depan. Dalam kapsul waktu ada 238 butir impian masyarakat dari 34 provinsi plus impian dan harapan Presiden Jokowi sebagai rangkuman impian besar bangsa Indonesia.
Dalam mewujudkan KWII, tidak menggunakan anggaran negara, hanya mengandalkan kerja patungan, kerja bersama, gotong royong skala nasional antara Panitia Nasional Gerakan Ayo Kerja 70 tahun Indonesia Merdeka dan pemerintah men-support.
Gagasan tentang kapsul waktu ini langsung mengingatkan saya pada Cuplikan Puisi Paman Doblang karya penyair besar si Burung Merak Indonesia, WS Rendra: Kesadaran adalah matahari.
Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala, dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. (Depok, 22 April 1984).
Membandingkan kapsul waktu yang berisi 238 butir impian masyarakat plus 1 impian Presiden Jokowi, dengan cuplikan puisi Paman Doblang tersebut, rasanya ada yang aneh. Mengapa?
Lewat puisinya, WS Rendra, sekitar 31 tahun yang lalu, telah menyindir bangsa ini dengan puisi Paman Doblang. Kata-kata kesabaran adalah matahari, bisa diartikan sebagai sikap kokoh, tegas, konsisten, dinamis, karena pemimpin bangsa ini seharusnya selalu sadar seperti matahari sehingga mencerminkan kekokohan, ketegasan, konsistensi, hingga dinamika seperti janji sebelum memimpin bangsa.
Berikutnya, kesebaran adalah bumi, mengisyaratkan bagaimana pemimpin bangsa selalu sabar seperti bumi tetap digaris edarnya, menerima kodratnya, tidak lalu melewati batas atas kodrat tersebut.
Selanjutnya, keberanian menjadi cakrawala, tengok bagaimana pemimpin bangsa ini mempertunjukkan drama keberaniannya dengan cakrawala yang dimilikinya untuk kepentingan sendiri, golongan, dan tujuan politiknya, bukan untuk masyarakat, dan mereka selalu ada dalam lingkaran kisruh dan gaduh untuk memperjuangankan kepentingannya.
Makna perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata, mengartikan bagaimana para pemimpin bangsa ini lalai dalam mewujudkan perjuangan untuk masyarakat, karena lebih berjuang untuk dirinya. Hanya banyak janji dan kata-kata!
Sekitar 31 tahun yang lalu, WS Rendra meluncurkan puisi tersebut. Kini, atas dasar mewujudkan implementasi dari slogan Gerakan Ayo Kerja 70 Tahun Indonesia Merdeka’ yang dicanangkan oleh Presiden RI Joko Widodo, mengemuka gagasan KWII.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20160111antara-puisi-paman-doblang-dan-kapsul-waktu_20160111_165146.jpg)