Citizen Journalism

Mengenang Dewi Sartika

Bagi masyarakat Sunda, Raden Dewi Sartika adalah salah satu tokoh pendidikan paling penting.

senimanpatungbambngwin.com
Patung Dewi Sartika dan biodata Dewi Sartika. 

WARTA KOTA, PALMERAH - Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei mengambil waktu tanggal kelahiran Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara, yang dilahirkan tahun 1889.

Selain tanggal itu, ada tanggal 4 Desember yang juga tergolong penting dalam dunia pendidikan nasional, namun kerap tidak diingat banyak orang.

Padahal tanggal tersebut adalah hari lahir Raden Dewi Sartika, salah satu pelopor pendidikan wanita di Indonesia.

Bagi masyarakat Sunda, Raden Dewi Sartika adalah salah satu tokoh pendidikan paling penting.

Namanya sering kali disandingkan sebagai “Raden Ajeng Kartini-nya Jawa barat.”

Tentu saja penyematan tersebut tidak tepat dan bernuansa sentimentil. Meskipun keduanya sama-sama bercita-cita memajukan pendidikan kaum wanita, namun Dewi Sartika dan Kartini berangkat dari titik tolak yang berbeda dan dengan cara perjuangan pendidikan yang tidak sama pula.

Ajip Rosidi dalam buku Manusia Sunda (1984) menjadikan Dewi Sartika sebagai salah satu tokoh figuratif yang menggambarkan kepribadian dan identitas masyarakat Sunda.

Ajip Rosidi percaya bahwa dalam tokoh-tokoh imajiner suatu bangsa, terutama dalam tokoh-tokoh legendaris yang hidup dalam masyarakat, tercermin dan melukiskan watak, sifat, dan nilai yang dianut masyarakat tersebut.

Dewi Sartika adalah salah satu tokoh wanita Nusantara pertama yang memperjuangkan pendidikan kaumnya.

Semenjak remaja, pada kesempatan bermain-main dengan sesama gadis, Dewi Sartika sering membikin sekolah-sekolahan, mengajari dan menolong kawannya yang buta huruf membaca surat.

Laku pribadi Dewi Sartika menyadari tentang pentingnya kaum wanita mendapat pendidikan, agar dapat hidup mandiri. Para wanita tidak usah semata-mata bergantung kepada suami.

Menurut dia, hidup sebagai istri perlu mengatur rumah tangga yang patut. Pada tahun 1904 ketika Dewi Sartika berusia 20 tahun, dibuka Sakola Istri. Kemudian pada tahun 1929, menjadi Sakola Raden Dewi.

Perjuangan pendidikan Dewi Sartika bukanlah mudah. Banyak kecaman dan cibiran yang dianggap menyalahi tradisi.

Namun Dewi Sartika tetap gigih. Sakola Istri memberi pelajaran berupa berbagai keterampilan wanita seperti memasak, mencuci, membatik, menjahit, menyulam, menyetrika, dan merenda sebagai keterampilan rumah tangga yang penting.

Di samping juga agama, bahasa Belanda, dan ilmu kesehatan.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved