resensi buku

Pemberontakan di Dalam Penjara

Menurut Radhar, perlawanan terhadap kapitalisme adalah sebuah perjuangan kebudayaan, perjuangan mengembalikan kedaulatan atas diri

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA
Cover buku Ekonomi Cukup: Kritik Budaya pada Kapitalisme. 

Oleh Hendro Sangkoyo

Kritik atas kapitalisme merupakan sebuah medan percakapan dan kontestasi yang sangat majemuk titik berangkat, tradisi keilmuannya dan cakupannya, sepadan dengan rentang pengaruh dan evolusi kapitalisme yang memediasi ruang kausasi simbolik/kultural dan ruang kausasi biofisikal/alami.

Proposisi buku ini adalah bahwa percobaan memperbaiki kapitalisme—kembali ke mandat konstitusi, lakon ”Jalan Ketiga” untuk memoderasi pasar, penegakan demokrasi ekonomi—takkan menjawab pemiskinan kemanusiaan yang medannya melampaui rerantai ekonomik.

Ruang kausasi yang harus diintervensi adalah ”kebudayaan”. Sistem ekonomi kapitalis beroperasi bak rangkaian percobaan pembunuhan atas ”kebudayaan kita”.

Tidak mudah memahami apa yang dimaksud sebagai kebudayaan dalam buku ini.

Menurut Radhar, perlawanan terhadap kapitalisme adalah sebuah perjuangan kebudayaan, perjuangan mengembalikan kedaulatan atas diri (hal 6).

Dengan berbagai contoh, penulis menyimpulkan bahwa kita tak mampu menyatakan ”cukup” karena absennya perangkat mental, spiritual, dan intelektual (hal 13).

Fokus kajian penulis adalah kapitalisme dan demokrasi, yang disebut sebagai dua produk ”adab kontinental” (hal 4).

Pemilahan peradaban utama ke dalam jenis kontinental dan bahari mengundang pertanyaan. Kapitalisme mencakup proses-proses ekonomik maritim dan terestrial.

Begitu pula, bukan kontras karakter bentang alam di antara keduanya yang menjelaskan zonasi ruang-waktu perkembangan kapitalisme.

Perluasan kolonialisme sendiri bertumpu sebagian pada akar kebudayaan bahari. Dikotomi peradaban tersebut di atas boleh jadi mengacu pada Eropa dan wilayah yang ada di luarnya.

Demarkasi ”Kebudayaan Kita” di hadapan kapitalisme juga mengundang pertanyaan tentang lokasi ”kebudayaan kita” itu dalam gelombang migrasi dan proses akulturasi yang berskala Bumi.

Kewargaan kebudayaan tembikar, kunyah sirih-pinang, kebudayaan padi, rempah-rempah, dan tanaman pangan lain—sebagai contoh, mempertautkan wilayah Asia kepulauan dengan Asia daratan, Laut Tengah, Afrika, Eropa, dan Amerika Selatan.

Akuan atas yang ”asli Indonesia” karenanya problematis. Tempe—bagian dari rezim pangan dan dikemukakan sebagai aset kebudayaan Indonesia—dilahirkan jauh di utara kepulauan Indonesia.

Sumber: KOMPAS
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved