Penyandang Disabilitas Ini Jadi Korban Eksploitasi
Pria yang mengalami keterbelakangan mental itu justru menjadi korban eksploitasi oleh seorang perempuan bernama Sri, warga Jalan Angke Indah I
WARTA KOTA, GAMBIR - Pengamanan seorang penyandang disabilitas, Feryadi (35) pengemis bermodus sumbangan oleh Satuan Petugas Pelayanan Pengawasan dan Pengendalian Sosial (P3S) Suku Dinas Sosial Jakarta Pusat di sekitar Pasar Kambing, tepatnya Jalan Kebon Pala I, Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (2/11) sore memaparkan fakta baru.
Pria yang mengalami keterbelakangan mental itu justru menjadi korban eksploitasi oleh seorang perempuan bernama Sri, warga Jalan Angke Indah I RT 11/01 Angke, Tambora, Jakarta Barat.
Mirisnya kenyataan tersebut terungkap usai Feryadi menjalani pemeriksaan di kantor Sudin Sosial Jakarta Pusat, Blok C Kantor Walikota Jakarta Pusat, Rabu (2/11).
Kepada petugas, Feryadi mengaku jika profesi yang dijalaninya sejak tahun 2001 itu merupakan arahan dari Sri.
Sehingga setiap hari, dirinya bersama sebanyak 96 orang rekannya diminta untuk berkeliling ke sejumlah wilayah se-Jabodetabek untuk menghimpun sumbangan warga.
Modus yang digunakan pun sama, umumnya menggunakan kotak amal ataupun proposal sumbangan untuk meyakinkan masyarakat.
"Kita udah ada tempatnya sendiri-sendiri pak, ada yang di Depok, Bogor, Jagakarsa, Kebayoran sampe bekasi. Jadi dari rumah (Sri-red) pagi, kita jalan, nanti pulangnya ke rumah lagi, sore," ungkapnya terbata-bata.
Seperti misal dirinya, selepas meninggalkan kontrakan yang diduga merupakan penampungan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) milik Sri, dirinya pergi menuju Tanah Abang dengan menumpang bus Kopaja 95 jurusan Tanah Abang - Rawa Bokor.
Sesampainya di Tanah Abang, seperti biasa dirinya pun berkeliling kawasan Kebon Melati, Tanah Abang untuk menghimpun sumbangan.
Bermodalkan kemeja dan celana lusuh serta kopiah warna hitam andalannya, dirinya berhasil meraup sumbangan hingga sebesar Rp 150.000 hingga Rp 200.000 hanya dalam setengah hari.
Namun, hasil jeri payah memelasnya itu tidak seluruhnya dapat dinikmati, uang sebesar Rp 30.000 harus disetorkannya kepada Sri setiap hari.
"Kita nggak tahu itu duitnya buat apa, yang penting kita harus nyetor segitu setiap hari. Kalau nggak bisa, kita diomelin pak, dikata-katain," jelasnya pelan.
Ditemui bersamaan, Kasudin Sosial Jakarta Pusat, Susana Budi Susilowati mengungkapkan pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak Sudin Sosial Jakarta Barat untuk melakukan penelusuran terkait temuan tersebut.
Karena tidak hanya menipu masyarakat lewat modus menghimpun sumbangan, Sri pun disangkakan telah melakukan tindak pidana eksploitasi terhadap para penyandang disabilitas.
Hal tersebut ditunjukkannya lewat kesaksian Feryadi, Sri diungkapkan telah menampung sebanyak 96 orang PMKS di salah satu kontrakan miliknya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20151203penyandang-disabilitas-ini-jadi-korban-eksploitasi_20151203_095943.jpg)