resensi buku
Pusaran Konflik Abad XXI
Konflik di Laut Tiongkok Selatan diprediksi menjadi pusaran konflik abad ke-21.
WARTA KOTA, PALMERAH - Konflik di Laut Tiongkok Selatan diprediksi menjadi pusaran konflik abad ke-21.
Persoalan tidak lagi sebatas potensi ekonomi ataupun sumber daya alam yang terkandung di dalamnya, tetapi menyangkut kehormatan dan kedaulatan negara.
Perairan yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Samudra Pasifik ini dilewati lebih dari separuh pelayaran perdagangan dunia.
Kondisi strategis tersebut memicu negara-negara di sekitarnya terlibat ketegangan saling klaim perbatasan.

Robert D Kaplan dalam Asia s Cauldron The South China Sea and The End of a Stable Pacific (Random House, 2014) menggambarkan kompetisi global yang terjadi di Laut Tiongkok Selatan (LTS).
Ketegangan bertambah seiring dengan agresivitas Tiongkok mengakuisisi perairan dengan beragam cara termasuk reklamasi membuat pulau baru.
Munculnya Tiongkok sebagai kekuatan dominan di kawasan ini mendorong Amerika Serikat terlibat. Kekuatan tandingan ini membuat perlombaan senjata tak dapat dihindarkan.
Kepala analis geopolitik di perusahaan intelijen global Stratfor ini menunjukkan, ambisi Tiongkok menguasai LTS mirip dengan tekad AS menguasai Laut Karibia pada kurun 1898 hingga 1914.
Saat itu AS mengalahkan Spanyol dan membuat terusan Panama yang menghubungkan Samudra Pasifik dengan Samudra Atlantik.
Kemenangan ini membuat AS mampu mendominasi perdagangan di kedua wilayah Barat dan Timur, yang berdampak besar terhadap kemajuan ekonominya.
Perbedaan kasus Laut Karibia dan LTS adalah pada skala dominasinya.
Pada perebutan Laut Karibia, militer AS lebih kuat dibandingkan dengan Spanyol.
Pada LTS, masuknya AS dalam pusaran konflik membuat Tiongkok tak lagi menjadi kekuatan dominan.
Bahkan secara militer, kekuatan Tiongkok berada di bawah AS.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20151201pusaran-konflik-abad-xxi1_20151201_134010.jpg)