resensi buku

Merumuskan Kemerdekaan

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tak bisa dipisahkan oleh sosok Soekarno dan Mohammad Hatta.

Kompas/Wawan H Prabowo
Cover buku Konflik di Balik Proklamasi: BPUPKI, PPKI, dan Kemerdekaan. 

WARTA KOTA, PALMERAH - Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tak bisa dipisahkan oleh sosok Soekarno dan Mohammad Hatta.

Peran mereka sebagai Proklamator berawal dari dibentuknya Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau BPUPKI.

BPUPKI dibentuk penguasa Jepang untuk merancang bentuk negara, sistem pemerintahan, dan dasar hukum negara yang merdeka.

Jepang kemudian mengganti BPUPKI menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau PPKI. Soekarno dan Hatta dipilih menjadi ketua dan wakil ketuanya.

Soekarno, dalam posisinya sebagai anggota BPUPKI menjawab pertanyaan ketua sidang BPUPKI tentang dasar negara.

Seperti tertuang dalam Konflik di Balik Proklamasi BPUPKI PPKI dan Kemerdekaan (Penerbit Buku Kompas, 2010), falsafah negara yang kemudian disebut Pancasila untuk pertama kali diucapkan secara resmi dalam sidang itu oleh Soekarno.

Kabar kekalahan Jepang atas Sekutu didengar Golongan Muda pada 14 Agustus 1945.

Gejolak tekanan yang menghendaki pengambilalihan kekuasaan oleh Indonesia makin memuncak dilancarkan para pemuda dari beberapa golongan.

Rapat PPKI pada 16 Agustus pukul 10 pagi tidak dilaksanakan karena Soekarno dan Hatta tidak muncul (hal 53).

Saat itu, Soekarno dan Hatta diungsikan ke Rengasdengklok oleh golongan muda.

Sekembalinya ke Jakarta, Soekarno, Hatta, dan Achmad Subarjo merumuskan teks proklamasi.

Sebanyak 30 tokoh nasional yang hadir dalam pembahasannya di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda.

Saat itu, Soekarno mengusulkan agar naskah proklamasi ditandangani semua anggota PPKI.

Sumber: KOMPAS
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved