Citizen Journalism
Teroris, Siapa Dirimu?
Teroris adalah teroris, mereka adalah kelompok kepentingan yang secara keji menggunakan Islam sebagai tameng untuk mewujudkan kepentingan duniawinya.
Sejak saat itu setiap peristiwa pemboman dan penyerangan yang menimbulkan korban rakyat sipil selalu dilekatkan kepada komunitas muslim.
Sebenarnya, seperti halnya aksi teror yang dilakukan Ku Klux Klan, Amerika dan sekutunya harus berkaca kepada peristiwa klasik di negerinya masing-masing.
Gerakan separatis IRA di Irlandia dalam aksinya kerap melakukan serangkaian teror terhadap warga sipil di Inggris dan Irlandia.
Aksi teror para militan IRA maupun simpatisannya berlangsung sejak tahun 1960.
Pada tahun 1997 markas FBI di Oklahoma diledakkan oleh pria asal Amerika sendiri Timothy mc veigh, namun pemerintah Amerika tidak menyebutnya sebagai aksi teroris, melainkan sekadar aksi kriminal.
Begitu pula dengan kasus pembunuhan JFK.
Amerika dan sekutunya akan lantang menyebut aksi terorisme kepada sejumlah kelompok militan yang kebetulan berasal dari Timur Tengah.
Kelompok-kelompok radikal ini sesungguhnya sangat jauh dari ajaran Islam.
Bahkan Islam memiliki fakta sejarah tentang bagaimana sifat dan sikap kafir quraisy yang sangat membenci ajaran Islam yang dibawa oleh Muhammad.
Bahkan saat ini negara-negara Arab atau Timur Tengah mulai identik dengan budaya/kebiasaan barat. Negara kaya di jazirah Arab yang memiliki tambang minyak mulai memiliki kepentingan politis dan bisnis yang tidak langsung terkait dengan Islam dan ajarannya.
Sementera negara-negara Arab yang kecil dan miskin telah menjadi komoditas politik negara arab lainnya yang besar. Salah satu kepentingannya jelas adalah soal kekayaan tambang minyak.
Sedangkan apa yang terjadi di Indonesia sendiri masih merupakan studi yang panjang jika harus menyimpulkan bahwa pesantren adalah basis dari ajaran terorisme.
Peristiwa teror bom yang beberapa kali sempat mengemuka belum dapat dibuktikan terkait secara langsung dengan ajaran Islam yang diselenggarakan di pesantren.
Faktanya lebih kepada pemahaman dan kepentingan yang keliru dari individu atau kelompok tertentu terhadap suatu pandangan menyangkut aspek pemerintahan dan atau kekuasaaan.
Fakta bahwa teroris itu ada adalah sebuah keniscayaan yang harus dterima. Perihal asal-usul pelaku teror yang kebetulan berbau Arab dan beragama Islam tidak serta merta harus menjustifikasi Islam sebagai agama yang mengajarkan kebencian terhadap umat atau bangsa lainnya.