Minggu, 10 Mei 2026

Surani Ubah Styrofoam Jadi Benda Bernilai Tinggi

Bagi Surani (53) styrofoam, material yang sulit terurai, bisa didaur ulang menjadi barang yang memiliki nilai jual.

Tayang:
Penulis: Junianto Hamonangan |
Warta Kota/Junianto Hamonangan
Surani saat menunjukkan lukisan yang berbahan styrofoam. 

WARTA KOTA, PULOGADUNG - Bagi Surani (53) styrofoam, material yang sulit terurai, bisa didaur ulang menjadi barang yang memiliki nilai jual.

Bahan tersebut bisa diubah menjadi karya seni dan bahan bangunan seperti batu bata.

Bertempat di salah satu bengkel daur ulangnya di SMK Negeri 7 Rawamangun serta sebagian siswa, Surani memberikan pelatihan mengubah styrofoam bekas agar dibuat menjadi dekorasi pernikahan ataupun diolah menjadi clay atau lilin.

Surani menuturkan pengolahan lilin dimulai dengan melarutkan styrofoam menggunakan bensin agar mencair dan menyerupai lem yang kental.

Dalam kesempatan yang sama, bubur kertas juga dibuat dengan menggunakan air untuk melumatkan kertas.

"Bubur kertas itu kemudian diaduk dengan tanah sehingga menghasilkan adonan kertas dan tanah yang kalis," ujarnya, Minggu (22/11).

Selanjutnya kedua adonan, styrofoam dan bubur kertas yang dicampur tanah, kemudian diaduk menjadi satu dengan menggunakan tangan.

Sementara jika ingin membuat batubata, adonan clay tinggal dicampur dengan gamping sehingga diperoleh adonan yang lebih keras dan padat.

"Kurang dari setengah hari setelah dicetak, adonan batubata langsung kering," katanya.

Menurutnya, setiap 0,5 kwintal styrofoam dapat diolah menjadi lilin seberat 1 kg dengan biaya Rp 10.000.

Sementara saat dijual kepada kalangan seniman di Pasar Seni Ancol, lilin itu dijual seharga Rp 30.000 per kg.

"Sekali pesan, bisa sampai lebih dari 10 kg clay. Untuk selisih modal dan harga jual, itu sebagai ganti biaya tenaga kami karena kan seluruhnya dikerjakan secara manual. Selain itu juga untuk membeli bensin sebagai pelarut styrofoam dan biaya angkut ke bengkel daur ulang," kata Surani.

Selama ini Sunari juga sering mendapat pesanan dekorasi pernikahan ataupun acara peresmian dengan menggunakan styrofoam bekas.

"Saya kan memang bekerja sebagai pembuat dekorasi pernikahan dan acara resmi lainnya. Biayanya mulai dari Rp 5 juta sampai hampir Rp 100 juta," jelasnya.

Sementara itu salah satu peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Odilia Rovara mengatakan terkait cara kerja Surani, ada beberapa hal yang perlu diperbaiki seperti adonan styrofoam yang telah dilarutkan bensin, harus didiamkan setidaknya dua bulan.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved