Minggu, 19 April 2026

Antisipasi Bencana Alam, BMKG Telah Miliki Sistem Peringatan Dini

Sistem peringatan dini bencana alam ini diharapkan mendorong adanya peningkatan layanan informasi cuaca dan iklim secara cepat, tepat akurat

Penulis: Budi Sam Law Malau |
BMKG
BMKG Citra satelot BMKG memperlihatkan potensi hujan Jakarta pada Senin (9/2/2015). 

WARTA KOTA, DEPOK - Sepanjang sejarahnya penyebab utama bencana alam di Indonesia, 80 persennya diakibatkan oleh faktor hidrologi atau siklus air, faktor meteorologi dan faktor iklim.

Dari semua itu, jatuhnya korban jiwa selalu terjadi dalam 45 persennya dan 79 persennya selalu mengakibatkan hilangnya atau hancurnya harta benda.

Hal itu diungkapkan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Andi Eka Sakya dalam seminar bertajuk "Roving Seminar On Weather Forcast Verification In Support Of Global Framework For Climate Service (GFCS)" di Kantor BMKG, Selasa (17/11) melalui siaran pers yang diterima Warta Kota.

Seminar ini diprakarsai oleh Organisasi Meteorologi Dunia dimana seminar ini merupakan bagian dari program penelitian mengenai cuaca dunia, dimana BMKG menjadi tuan rumahnya.

Dari faktor penyebab bencana alam yang dominan dan tingginya angka korban jiwa serta kerugian harta benda dalam setiap bencana alam yang terjadi, menurut Andi, BMKG sudah membangun dan mengembangkan sistem peringatan dini meteorologi dan klimatologi untuk mengantisipasi bencana yang mungkin terjadi mulai dari banjir, gempa bumi, angin ribut hingga tsunami atau gelombang laut.

Andi berharap sistem peringatan dini bencana alam ini mendorong adanya peningkatan layanan informasi cuaca dan iklim secara cepat, tepat akurat, serta mudah dipahami oleh stakeholders.

"Ada empat hal yang menyebabkan resiko bencana menjadi tinggi yaitu, manusia tidak dapat memahami suatu resiko terjadinya bahaya, keterkaitan kerentanan alam dengan pemanasan global, ketidakberdayaan manusia dalam menyikapi alam, dan ketidaksediaan atau masih kurangnya sistem peringatan dini yang dapat bekerja dengan lebih baik," kata Eka.

Untuk itu dengan sistem peringatan dini bencana alam yang dibangun BMKG, kata Eka, maka faktor terakhir dari resiko bencana yang mungkin terjadi bisa diantisipasi dan jatuhnya korban jiwa serta kerugian harta benda bisa diminimalisir.

"Informasi cuaca dan Iklim yang disampaikan oleh BMKG saat ini sangat penting dalam bidang maritim, pertanian, ketahanan pangan, sektor kelautan, sektor lingkungan, kesehatan, dan dijadikan sebagai pengambil kebijakan oleh pemerintah maupun pemerintah daerah," katanya.

Namun, Andi juga mengakui penyampaian informasi yang dilakukan BMKG masih terbatas terutama dalam hal akurasi informasi.

"BMKG akan terus berupaya meningkatkan akurasi pengamatan cuaca dan iklim," kata Andi.

Mengenai seminar yang diprakarsai oleh Organisasi Meteorologi Dunia dan pertama kali diadakan ini, Andi berpendapat hal ini sangat penting bagi Indonesia terutama bagi para pengamat BMKG untuk semakin meningkatkan tingkat akurasi informasi yang akan diberikan ke depannya.

"Diharapkan kegiatan ini dapat meningkatkan pengetahuan, dan dapat memberikan masukan kepada para pengamat BMKG sehingga dapat meningkatkan tingkat akurasi dan kualitas pengamatan," kata Andi.(bum)

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved