Kuliner
Wisata Kuliner Pecenongan Tetap Lestari
Lama sejak diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin pada tahun 1971 kala itu, Pusat Kuliner Pecenongan kini kian kehilangan kepopulerannya.
Namun, lewat kekompakkan warga dan pedagang, aksi kriminalitas tidak dapat dikurangi, bahkan terhitung selama sekitar 18 tahun, sejak tahun 1971 hingga tahun 1999, Pusat Kuliner Pecenongan kian ramai kebanjiran pengunjung.
"Kalau dibilang masa keemasan kita kapan, ya mulai Pecenongan ini diresmiin sampai pas reformasi, tahun 1998-1999. Kalau dulu itu, satu warung bisa punya 30 karyawan untuk ngelayanin pembeli, tapi karena pas jaman reformasi itu ekonomi sulit ditambah lagi kerusuhan, Pecenongan tutup lama," ceritanya.
Masa reformasi tersebut diungkapkannya, menjadi masa kelam yang dialami pedagang Pusat Kuliner Pecenongan, karena dari sebanyak 70 orang pedagang yang berjualan, jumlahnya kian menyusut hingga sebanyak 42 orang pedagang tersisa.
Hal tersebut dikarenakan, banyak pedagang yang menjadi korban penjarahan, perkosaan ataupun pembunuhan, sementara beberapa pedagang lainnya diketahui pergi ke kampung halaman.
"Untung saya sama orangtua, Yusuf Gunawan (almarhum) deket sama warga sini, jadi ditolongin. Karena itu juga sekarang kebanyakan pedagang sini yang kesisa itu keturunan kedua, warisan dari orangtua. Mereka yang bisa bertahan dari jaman reformasi," ungkapnya.
Cobaan demi cobaan pun kembali dialami para pedagang, selepas pergantian rezim Orde Baru, pedagang pun dihadapi dengan masuknya narkotika jenis ekstasi dan putau pada sekira tahun 2000.
Karena maraknya penyalahgunaan narkotika, jumlah pengunjung dikatakannya, kian menurun, para pengunjung hiburan malam tidak lagi makan di kawasan Pecenongan.
"Kita berasa banget waktu ekstasi sama putau itu mulai masuk ke Jakarta, bisa keitung yang makan. Soalnya memang efeknya parah, orang yang pake narkoba itu jadi males makan, beda halnya waktu sebelum ada narkoba, orang yang pulang dari kasino cuma mabok bir sama vodka, efeknya bagus-malah bikin nafsu makan," jelasnya.
Penggusuran
Ditemui bersamaan, Koordinator Pusat Kuliner Pecenongan, Linda menambahkan, seiring dengan perkembangan zaman dan pesatnya pembangunan, kawasan Pecenongan pun kian dilirik pengembang dan kian didera isu penggusuran.
Kondisi tersebut seperti halnya yang terjadi pada akhir bulan Oktober 2015 lalu. Pihak Pemkot Jakarta Pusat berencana untuk melakukan penggusuran pedagang Pusat Kuliner Pecenongan yang juga dikenal sebagai JP 13.
Rasa gusar dan resah pun disampaikan pedagang maupun warga yang bermukim di sekitar Jalan Pecenongan, Kebon Kelapa, Gambir, Jakarta Pusat. Karena seperti yang diketahui, sejumlah warga mulai dari anak-anak hingga dewasa pun turut menggantungkan hidupnya di Jalan Pecenongan untuk bekerja menjadi penyemir sepatu, juru parkir, pedagang buah keliling hingga penjual buku.
"Karena mau dihapus, warga jadi resah, tapi kita sampaikan ke mereka kalau kita harus kompak. Kenapa bisa begitu, karena Pecenongan ini punya kita, tempat kita cari nafkah," ungkapnya dihadapan warga dan pedagang di warung makannya, Sabtu (7/11/2015).
Menanggapi keterangan Linda, seorang pengamen, Ryan (20) pemuda RT 05/04 Kebon Kelapa, Gambir, Jakarta Pusat pun menyampaikan rasa keberatannya.
Dirinya menilai jika upaya penggusuran yang dilakukan oleh Pemkot Jakarta Pusat tidak beralasan, sebab menurutnya, warga sama sekali tidak merasa keberatan dengan adanya pedagang Pecenongan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/kuliner-pecenongan_20151109_032236.jpg)