resensi buku

Pedagogik Kritis Pancasila

Kurikulum 2013 yang dianggap memiliki muatan terlalu padat, menurut rencana,akan direstrukturisasi agar sesuai dengan kapasitas berpikir peserta didik

Editor: Andy Pribadi
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Cover buku Pedagogik Teoretis untuk Indonesia (tengah), cover buku Manifesto Pendidikan Nasional (kiri), dan cover buku Pendidikan Nasional: Arah Ke Mana? (kanan). 

Oleh Anggar Septiadi

Kurikulum 2013 yang dianggap memiliki muatan terlalu padat, menurut rencana, akan direstrukturisasi agar sesuai dengan kapasitas berpikir peserta didik di sekolah.

Utak-atik kurikulum seperti ini memang tak hanya terjadi belakangan hari.

Buchori (2007) mengungkapkan bahwa sejak awal Orde Baru, konteks seperti ini telah jamak ditemukan pada konteks pendidikan nasional kita.

Ketika muncul kebutuhan membentuk warga negara yang berwatak Pancasila dibuat mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

Ketika muncul kesadaran ekologi bagi keberlanjutan lingkungan, diciptakan mata pelajaran pendidikan ekologi di sekolah. Konteks seperti ini yang diperkirakan masih jadi pedoman menyusun grand design pendidikan nasional.

Penyusunan konsep pendidikan nasional yang terlalu berfokus terhadap pendidikan nasional inilah yang kemudian menggerakkan ahli pendidikan Henry Alexis Rudolf Tilaar merilis buku terbarunya dengan judul Pedagogik Teoretis untuk Indonesia.


Alih-alih memberi rumusan pendidikan nasional, Tilaar menekankan penemuan landasan pendidikan yang cocok dengan konfigurasi Indonesia.

”Apakah ada ilmu pendidikan yang khas dari Indonesia,” tanya Tilaar.

Sebelum menemukan landasan pendidikan nasional, pada pembukaan buku, Tilaar terlebih dahulu memberikan penjelasan mengenai urgensi menemukan landasan pendidikan yang berfaedah dalam praktik- praktik pendidikan kelak.

Dalam khazanah ilmu pengetahuan yang tersusun secara sistematis, ilmu pendidikan (pedagogik) telah dikenal sejak zaman Yunani klasik.

Waktu itu pendidikan sudah dikenal dalam kebudayaan manusia, tetapi sebagai ilmu yang berdiri sendiri pedagogik belum diakui sebagai ilmu.

Pendidikan memang telah dirasakan sebagai sebuah kebutuhan dalam perkembangan kehidupan manusia (hal 1).

Halaman
1234
Sumber: KOMPAS
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved