resensi buku

Manifesto Pendidikan Berbasis Pancasila

Prof Tilaar tidak berhenti memikirkan pendidikan sejak dirinya menjadi seorang guru (sejak 1952-sekarang) sekaligus tokoh pemikir pendidikan nasional.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Cover buku Pedagogik Teoretis untuk Indonesia (tengah), cover buku Manifesto Pendidikan Nasional (kiri), dan cover buku Pendidikan Nasional: Arah Ke Mana? (kanan). 

WARTA KOTA, PALMERAH - Dalam satu tulisan yang didedikasikan untuk merayakan hari ulang tahun ke-80 Prof Dr HAR Tilaar M Sc Ed yang dimuat dalam buku Pendidikan Nasional: Arah Ke Mana? (Penerbit Buku Kompas, 2012), pengamat pendidikan Darmaningtyas menyebut Prof Tilaar sebagai ”Manusia Pengembara”.

Sebutan sebagai sosok pengembara bukan hal berlebihan.

Puluhan buku, ratusan tulisan artikel, makalah, dan laporan penelitian tentang pendidikan telah dihasilkan Prof Tilaar.

Wacana pendidikan yang diangkat terbilang luas, mencakup banyak dimensi yang melintasi ruang dan waktu.

Prof Tilaar tidak berhenti memikirkan pendidikan sejak dirinya menjadi seorang guru (sejak 1952-sekarang) sekaligus tokoh pemikir pendidikan nasional.

Jejak-jejak pemikirannya sebagaimana tampak dari ratusan karyanya menunjukkan adanya proses evolusi dalam pemikiran. Dari yang bercorak liberal, konstruktif, lalu kritis.

Dua dimensi pendidikan
Perubahan cara pandang guru besar pedagogik kelahiran Tondano, Sulawesi Utara, 16 Juni 1932, berpengaruh terhadap bagaimana ia berupaya memahami atau mengolah berbagai persoalan pendidikan. Mulai dari aspek mikro hingga makro.

Wacana pendidikan baginya bukan terbatas padaproses belajar-mengajar di sekolah saja.

Pedagogik atau ilmu pendidikan juga berurusan dengan isu-isu nasionalisme, jender, multikulturalisme, lingkungan, demokratisasi, hak asasi manusia, globalisasi, dan sebagainya.

Pendidikan harus kontekstual, bisa merespons tantangan zaman yang terus berubah.

Pedagogi kritis buah pemikiran Prof Tilaar memandang pendidikan bukan hanya instrumen mencapai kemajuan, melainkan menghidupi kemanusiaan dalam hidup bersama.

Ada dua dimensi pokok pendidikan yang bertautan. Pertama, pendidikan sebagai hak asasi manusia. Kedua, pendidikan sebagai proses.

Sebagai suatu hak asasi manusia, berarti bahwa manusia tanpa pendidikan tidak dapat mewujudkan kemanusiaannya.

Adapun, pendidikan sebagai proses berarti menjadi manusia tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi merupakan suatu proses kemanusiaan dalam hidup bersama (hal 48).

Manifesto pendidikan nasional
Sebagai salah satu upayanya merespons tantangan zaman itu, Prof Tilaar yang anggota Dewan Riset Nasional (1999-2004) dan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia menuliskan pemikirannya dalam buku Manifesto Pendidikan Nasional: Tinjauan dari Perspektif Postmodernisme dan Studi Kultural (Penerbit Buku Kompas, 2005).

Sumber: KOMPAS
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved