Citizen Journalism

Masih Pelajar SD Sudah Kejar Cinta

Padahal di masa lalu anak sekolah lebih asyik bermain dengan teman sebayanya. Semisal bermain sepak bola di sore hari,

Editor: Andy Pribadi
radheyasuta.blogspot.com
Ilustrasi. 

WARTA KOTA, PALMERAH - Apakah di masa lalu anak sekolah berani mengungkapkan rasa cinta kepada sejawatnya? Atau mungkin adakah keberanian untuk berpegangan tangan, merangkul mesra, serta mengusap kening?

Mungkin bagi orang yang hidup pada generasi tersebut jarang melihat hal tersebut, atau mungkin tak pernah menyaksikannya secara terang-terangan.

Itulah permasalahannya, bagaimana anak sekolah di zaman ini lebih berani untuk mengungkapkan rasa cinta, berpegangan tangan, merangkul mesra, serta mengusap kening secara terang-terangan.

Sudah banyak kasus yang kita lihat bersama, dimana anak sekolah terlebih lagi masih duduk di bangku sekolah dasar, berani untuk mengucap cinta dan sayang pada lawan jenisnya.

Terlebih lagi hal-hal seperti itu diumbar ke ruang publik. Lantas apa guna pendidikan moral yang telah diajarkan di sekolah?

Perihal mengumbar di ruang publik, sudah menjadi hal yang wajar nampaknya bagi anak sekolah masa kini.

Dengan hadirnya modernisasi, kemudian membawa suatu kemajuan yang amat pesat di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, tentu saja menjadikan keuntungan tersendiri bagi generasi saat ini.

Media sosial misalnya, adalah tempat yang dianggap anak sekolah, khususnya anak sekolah dasar, pas untuk mengumbar isi hatinya.

Foto mesra dengan lawan jenisnya, kata cinta yang teramat mesra dan penuh sayang terhadap sang pujaan hati, membuat dunia seakan miliki berdua saja.

Yang perlu diingat adalah media sosial bukan cuma “aku” dan “dia” saja, juga ada orang di sekitarnya. Karena itu dinamakanlah media sosial.

Berkaitan dengan kemajuan yang telah dibawakan oleh modernisasi tersebut, ternyata tidak berbading lurus dengan moralitas. Iya, justru terjadi kemunduran moralitas di saat ini.

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, penggunaan media sosial yang terlewat batas itu merupakan salah satu kemunduran moralitas yang telah ditunjukkan.

Padahal di masa lalu anak sekolah lebih asyik bermain dengan teman sebayanya. Semisal bermain sepak bola di sore hari, asyik dengan permainan bola bekel, dan sebagainya. Hal seperti itu tentu saja lebih bernilai dibanding cuma sekadar pamer foto mesra dan untaian kata manis.

Karena pada hakikatnya masa kecil adalah saat yang menyenangkan, masa dimana manusia bisa tertawa lepas dengan natural, memamerkan kebodohan seusianya, hingga akhirnya komunikasi terjalin dengan amat baik.

Bukan malah terbuai karena cinta lawan jenis, kemudian merajut jalinan cinta dan kasih, berlanjut pada tangisan karena telah berpisah. Dan akhirnya membuat komunikasi yang sudah terjalin menjadi putus dan hilang entah kemana.

Dik, hidup tak melulu soal cinta, cinta, dan cinta. Gunakan masa kecilmu dengan baik dan benar. Karena dewasa kelak tak seperti indahnya masa kecil. Bukankah masa depan bangsa ini ada di tangan generasi muda.

Maka daripada gapai cinta dan sayang, lebih baik gapai cita dengan gemilang. Dan kata kuncinya adalah apa guna kejar cinta di usia yang masih belia, lebih baik kejar dan raih cita-cita demi masa depanmu bersama si dia, seraya tangan terus menengadah ke atas berharap pada Sang Maha Pencipta.

Fariz Anshar,
Mahasiswa Universitas Mataram

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved