Konsultasi

Cara Berhenti Merokok

Saya merasa, jika tak merokok, kemampuan saya untuk berpikir berkurang.

Oleh dr Samsuridjal Djauzi

Saya sudah merokok sejak usia 12 tahun, tetapi hanya beberapa batang sehari ketika berkumpul dengan teman-teman.

Setelah bekerja, saya mulai merokok sekitar 20 batang sehari. Ketika akan menikah, saya berjanji pada calon istri saya untuk berhenti merokok.

Saya mencoba selama seminggu, tetapi gagal. Saya kembali merokok.

Saya merasa, jika tak merokok, kemampuan saya untuk berpikir berkurang. Termasuk juga jika sehabis makan, saya selalu merokok dan saya menikmati rokok setiap habis makan.

Ketika akan menikah, saya berhasil berhenti satu bulan. Namun, setelah menikah, saya merokok kembali. Saya merasa kehilangan sesuatu jika tak merokok. Saya telah berusaha jika merokok tidak berbagi asap dengan orang lain. Saya mencegah mereka menjadi perokok pasif.

Menurut informasi, perokok pasif juga akan mengalami gangguan kesehatan seperti halnya perokok aktif. Istri saya belum bersedia hamil jika saya belum benar-benar berhenti merokok.

Saya memahami sikap istri saya itu karena dia ingin selama hamil dan juga setelah melahirkan, anak saya tak terganggu dengan kebiasaan merokok saya. Sebenarnya saya sudah mencari teman-teman yang berhasil berhenti merokok, menanyakan kiat berhenti merokok.

Di manakah saya dapat melakukan konseling untuk berhenti merokok? Apakah di konseling tersebut digunakan juga obat atau hanya dukungan konseling saja. Mohon penjelasan dokter.

M DI J

Memang dulu kebiasaan merokok dihubungkan dengan kemampuan membeli rokok sendiri. Jadi remaja dilarang merokok bukan karena alasan kesehatan, melainkan karena belum mampu membeli rokok sendiri. Sekarang sebenarnya masyarakat sudah mengetahui bahaya merokok, tetapi upaya berhenti merokok dipengaruhi oleh iklan rokok, pergaulan, dan mungkin juga karena suasana yang menekan.

Secara garis besar, tembakau mengandung bahan kimia tar, nikotin, dan karbon monoksida. Tar merupakan campuran berbagai zat hidrokarbon yang berbahaya untuk paru-paru kita. Nikotin merupakan zat adiktif yang menyebabkan perokok mengalami ketergantungan sehingga jika berhenti merokok dapat mengalami gejala putus zat.

Sementara karbon monoksida dapat mengurangi oksigen yang diserap oleh sel darah merah yang mengalir di paru-paru.

Anda tentu sudah sering membaca perokok yang mengonsumsi 15 sampai 20 batang rokok sehari, menghadapi risiko kematian 14 kali lipat akibat kanker paru, tenggorok, atau kanker mulut dibandingkan dengan bukan perokok.

Sementara untuk kanker esofagus risikonya 4 kali lipat dibandingkan dengan bukan perokok dan kanker kandung kemih 2 kali lipat dibandingkan dengan bukan perokok.

Sumber: KOMPAS
Halaman 1/2
Tags
merokok
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved