Konsultasi
Program Belanja Bersama Anak yang Efektif
Saat ini, anak balita yang sudah dapat berjalan sendiri, usia 2-3 tahun, dapat diajak pergi dan belajar menemani orangtua pergi berbelanja.
Oleh Agustine Dwiputri
Di supermarket, kita sering melihat anak merengek minta dibelikan sesuatu. Jika tidak dipenuhi, anak tersebut akan menjatuhkan badannya ke lantai atau menjerit-jerit sehingga menarik perhatian orang lain.
Kemudian, orangtua akan memarahi, membentak, atau mencubit anaknya. Salah siapakah ini?
Seorang ibu berusia 35 tahun di Jakarta punya seorang putra berusia 3 tahun. Suaminya bertugas di luar pulau dan hanya dapat berkumpul dengan keluarga sebulan sekali.
Hidup sehari-hari hanya bersama anak dan seorang adik laki-laki yang bekerja di kantor, sering tidak ada asisten rumah tangga, membuat sang ibu harus membagi waktu untuk mengurus anak, membersihkan rumah, menyiapkan makanan, dan berbagai kebutuhan hidup sehari-hari.
Masalah yang ditanyakan berhubungan dengan berbelanja bersama anak.
Apakah sehat jika anak sejak bayi sudah dibawa ke tempat publik, mulai umur berapa anak dapat diajak berbelanja, dan bagaimana ibu dapat mengajari anak balitanya ikut berbelanja tanpa menjadi rewel.
Jawaban
Menurut hemat saya, di masa sekarang ini, ada banyak fasilitas dan kemudahan bagi ibu untuk membawa bayi atau anak balitanya ikut bepergian ke ruang publik, seperti tempat-tempat berbelanja dan berekreasi, yang cukup nyaman suhu udaranya, bersih, cukup bebas kuman, dan tidak harus berdesakan dengan pengunjung lain.
Mungkin dahulu para ibu berpikir berkali-kali jika akan membawa bayi ke pasar terbuka yang panas, berbau, dan sesak dengan kerumunan orang dewasa.
Saat ini, anak balita yang sudah dapat berjalan sendiri, usia 2-3 tahun, dapat diajak pergi dan belajar menemani orangtua pergi berbelanja.
Masalah belanja dengan anak balita
Bagaimanapun, bepergian dengan anak balita perlu ada persiapan khusus.
Menurut Matthew Sanders (1997), berbelanja dengan anak kecil dapat menjadi pengalaman yang melelahkan, terutama ketika mereka lelah atau lapar atau ketika mereka berperilaku tidak sesuai/”nakal”.
Masalah yang biasa terjadi, antara lain, adalah anak-anak menuntut orangtua membelikan sesuatu bagi mereka, anak senang menyentuh/memegang berbagai barang tanpa izin, berjalan atau lari ke sana kemari di sepanjang lorong, tersesat, merengek, atau menjadi tidak terkendali (temper tantrum).
Alasan utama anak kecil menjadi rewel dan tidak betah dalam kegiatan berbelanja bersama orangtua adalah bahwa tak ada hal apa pun yang mereka lakukan.
Anak-anak yang kemudian merasa bosan sering menjadi pengganggu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20150917program-belanja-bersama-anak-yang-efektif_20150917_104843.jpg)