resensi buku
Industri Citra dalam Politik
Pasca Orde Baru, etalase politik di Indonesia memasuki masa transisi dari otoritarianisme ke fase liberalisasi sosial-politik
WARTA KOTA, PALMERAH - Pasca Orde Baru, etalase politik di Indonesia memasuki masa transisi dari otoritarianisme ke fase liberalisasi sosial-politik.
Partai dan tokoh baru dari berbagai ideologi bermunculan.
Perubahan ini menuntut pendekatan lain dalam komunikasi politik, untuk menonjolkan kelebihan, termasuk menerapkan ilmu pemasaran yang relevan di era multipartai.
Bila dilihat dari sudut pandang pemasaran, apa yang ditawarkan partai politik kepada publik tidak berbeda jauh dengan perusahaan jasa. Institusi politik harus mampu menyampaikan pesan dengan jelas.
Peran sosok menjadi krusial di era multipartai. Partai politik dan tokoh politik merupakan satu paket, sangat berpengaruh dan saling melekat.
Ketokohan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Partai Demokrat dapat diambil sebagai contoh.
Pada Pemilu 2004, Partai Demokrat membuat langkah manis di tahun pertama keikutsertaan dengan memperoleh 7,45 persen suara (peringkat 5).
Pada partisipasi keduanya di Pemilu 2009, Partai Demokrat berhasil meraup 20,85 persen suara.
Unggul atas Partai Golkar yang sejak Orde Baru hampir selalu memperoleh suara mayoritas. Pada dua periode pemilu tersebut, SBY terpilih menjadi presiden.
Keberhasilan SBY dan Partai Demokrat merupakan hasil dari penempatan citra partai yang tepat dalam menyasar target pasarnya.
Sudut pandang pasar dalam politik ini dikupas dalam disertasi Marzuki Alie, Ketua DPR RI 2009-2014,yang diterbitkan dalam buku Pemasaran Politik di Era Politik Multipartai (Expose, 2013).
Buku ini menjelaskan tentang perilaku masyarakat dalam memilih partai politik menggunakan lima variabel penting, antara lain ketokohan, hubungan emosional, program kerja, citra, dan ideologi.
Realitas politik saat ini menuntut para politisi, baik perorangan maupun partai, memahami mekanisme industri citra.
Pemasaran politik adalah rangkaian proses yang berawal dari pengumpulan informasi, pemetaan dan analisis persoalan, hingga perumusan solusi. Proses ini jarang disentuh partai-partai di Indonesia yang cenderung pragmatis.

:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20150916industri-citra-dalam-politik1_20150916_142405.jpg)