Kamis, 16 April 2026

Koran Warta Kota

Ibunda Ferry Korban Crane Tak Henti Nangis

Ibunda Ferry Mauludin Arifin (36), Zaenab (73), tak henti-hentinya menangis. Wajahnya memerah dan tubuhnya terlihat lemas.

Editor: Suprapto
Kompas/AFP
Sebuah alat berat proyek (crane) yang terjatuh di Masjidil Haram, Mekkah, Jumat (11/9/2015), dan menimpa para jemaah yang tengah melakukan shalat maghrib, jadi tontonan jemaah haji, Minggu (13/9/2015). 

WARTA KOTA, MEKKAH— Ibunda Ferry Mauludin Arifin (36), Zaenab (73), tak henti-hentinya menangis. Wajahnya memerah dan tubuhnya terlihat lemas.

Duduk di kursi kayu di rumahnya di Jalan Kahuripan Blok E3/40 No 15 RT 007/006B, Perumahan Jakapermai, Jaka Sampurna, Bekasi Barat, Kota Bekasi, Minggu (13/9) siang, Zaenab terus menangisi anaknya yang menjadi korban tewas tragedi crane di Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi, Jumat (11/9) malam.

Dia terus memanggil-manggil nama Fer­ry. Zaenab tak menyangka, anak keempat dari lima bersaudara itu tewas saat melaksanakan ibadah haji. "Ya Allah, tolong ampuni dosanya dan masukkan anakku ke surga-Mu," ucap Zaenab sambil tetap terisak.

Sebanyak 107 jemaah calon haji (calhaj), tujuh di antaranya dari Indonesia, tewas akibat tragedi crane yang menimpa plafon Masjidil Haram. Dari tujuh korban tewas itu, satu di antaranya adalah Ferry Mauludin Arifin.

Ke-7 jemaah calhaj dari Indonesia yang tewas telah dimakamkan di Arab Saudi. Humas Kementerian Agama (Kemenag), Rosyidin, mengatakan, sebanyak tujuh korban meninggal dunia tragedi crane telah dimakamkan sejak 12 hingga 13 September lalu.

Sebelum nikah

Zaenab mengaku tak ada firasat buruk terkait insiden yang menewaskan anaknya. Namun, sebelum Ferry bertolak ke Mekkah, Rabu (26/8) lalu, Zaenab merasa berat hati. Padahal Ferry sudah sering bepergian dalam jangka waktu yang lama.

Sebagai petugas lapangan di PT Freeport Indonesia yang bermarkas di Timika, Provinsi Papua, hampir seluruh waktu Ferry dihabiskan di sana. Setiap enam pekan sekali Ferry baru pulang ke Bekasi untuk menengok keluarganya, termasuk istrinya Linda Marlinda (38) dan anaknya Zia Aisyha Shabilah (10).

"Saya bingung, kenapa pas Ferry berangkat naik haji saya terasa berat hati, padahal sebelumnya tidak seperti itu," ujar Zaenab kepada Warta Kota.

Zaenab mengatakan, keinginan Ferry untuk melaksanakan ibadah haji sudah ada sejak belum menikah atau 2008 lalu. Saat itu, Ferry mendaftarkan diri untuk melaksanakan ibadah haji. Namun, ibadah haji baru bisa terlaksana tujuh tahun kemudian karena kesibukan Ferry dengan pekerjaannya.

Sesuai rencana, sebetulnya Ferry berangkat ke Mekkah pada 2009 lalu atau setahun usai dia mendaftarkan diri. Namun, karena saat itu dia dipindahtugaskan di Newmont, Nusa Tenggara Barat (NTB), akhirnya ibadah haji diundur.

Setahun kemudian atau 2010 lalu, Ferry dijadwalkan berangkat ibadah haji, tapi Ferry kembali menundanya karena masih sibuk dengan pekerjaannya. Oleh petugas Kementerian Agama, lalu Ferry diingatkan harus berangkat ke Makkah pada 2015 ini. "Kalau tidak berangkat, nanti antreannya akan hangus. Akhirnya dia izin ke perusahannya," ujar Linda Marlinda (38), istri Ferry kepada Warta Kota, kemarin.

Ikhlas

Linda mengaku terpukul dengan kejadian ini. Dia juga tak pernah membayangkan kepergian Ferry ke Tanah Suci Mekkah rupanya untuk selama-lamanya. Meski demikian, dia telah menyerahkan kejadian ini kepada sang Khalik. "Saya ikhlaskan kejadian ini, terlebih suami saya meninggal dunia saat beribadah haji," kata Linda.

Kabar kematian Ferry mengejutkan pihak keluarga. Awalnya, mereka berpikir Ferry selamat dari tragedi crane di Masjidil Haram. Sebab, sebelum ada insiden tersebut, Linda sempat berkomunikasi dengan suaminya melalu sambungan telepon, Kamis (10/9) malam.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved