Kisah Pengamen Sukses Masuk UI
Saat Harus Daftar Kuliah Tak Punya KTP
Pengamen yang akhirnya lolos SNMPTN ini tak punya KTP. Hidupnya selalu berpindah-pindah sehingga sulit punya KTP
Dodo dan adiknya tidak melanjutkan sekolah. Untuk meringankan beban sang ayah, ia akhirnya memberanikan diri untuk mengamen. "Mulai mengamen ya di situ, di kota Bandung. Di sebelah mananya saya lupa," ujar Dodo.
Nasib keluarganya mulai membaik saat sang ayah menemui seseorang yang mau memberikan pekerjaan. Ayah Dodo ditawari pekerjaan di Lampung.
Mereka bertiga pun hijrah ke Lampung pada tahun 2008. Mereka mengontrak rumah dan Dodo pun melanjutkan sekolahnya di sana hingga lulus SMP.
Jadi kuli
Pada tahun 2012, hubungan baik ayah Dodo dan perusahaan yang mempekerjakannya tidak berlanjut. Sang ayah kemudian mengadu nasib ke kota Padang, Sumatera Barat, dengan membawa kedua anak laki-lakinya itu.
Di kota tersebut Dodo ikut membantu keuangan keluarga dengan bekerja serabutan, mulai dari berdagang kue, hingga menjadi kuli bangunan.
"Saya sempat jadi kuli bangunan di Padang, waktu itu bayarannya lumayan, Rp 100.000 per hari," kata Dodo.
Lagi-lagi nasib membawa keluarga tersebut hijrah. Dari kota Padang mereka lalu pindah ke kota Bogor, Jawa Barat, pada tahun 2014. Di sana, Dodo kembali mengamen.
Di Bogor, ia sempat membaca artikel soal sekolah Master pada sebuah koran bekas. Dari tulisan itu ia mengetahui, bahwa ia masih bisa melanjutkan pendidikannya.
Ia kemudian meminta sang ayah untuk mengantarnya ke sekolah yang lokasinya bersebelahan dengan terminal Depok itu. Di tahun 2014 ia mulai melanjutkan sekolahnya, langsung ke kelas 3 SMA, walau sebelumnya ia belum pernah mengenyam pendidikan tingkat atas.
"Setahu saya boleh, ada peraturan yang baru, jadi bisa langsung kelas tiga SMA," ujar Dodo. (tribunnews/nurmulia rekso-bersambung)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20150727-dodo-lolos-smptn_20150727_102407.jpg)