Konsultasi

Di Balik Makna Memaafkan

Memaafkan dapat meningkatkan perasaan lebih sehat karena individu menghayati perubahan positif dalam emosi.

KOMPAS
Ilustrasi. 

Oleh Kristi Poerwandari

Secara awam orang berpikir, bila ia dapat membalas tindakan buruk yang dilakukan oleh orang lain, ia akan merasa lebih baik.

Penelitian psikologi ternyata menunjukkan, pikiran dan perilaku membalas dendam malahan dapat membuat kita merasa lebih buruk.

"..the weak can never forgive. Forgiveness is an attribute of the strong." (Mahatma Gandhi)

Carlsmith (2008) membuat eksperimen "permainan investasi". Eksperimenter berpura-pura menjadi salah satu partisipan, dan melakukan kecurangan dalam permainan itu, yang membuat partisipan lain sangat menurun perolehan keuntungannya.

Sebagian partisipan kemudian diberi kesempatan melakukan langkah-langkah untuk menghukum orang yang bermain curang.

Membalas membuat lebih buruk?
Semua yang diberi kesempatan mengambil kesempatan itu untuk membalas.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang melakukan pembalasan merasa lebih buruk daripada yang tidak melakukan pembalasan, tetapi mereka yakin bahwa mereka akan merasa jauh lebih buruk lagi bila tidak melakukan pembalasan.

Sementara itu, partisipan yang tidak diberi kesempatan untuk membalas menyangka mereka akan merasa lebih baik bila memperoleh kesempatan itu meski jika dibandingkan dengan yang diberi kesempatan membalas, mereka sesungguhnya menunjukkan perasaan lebih positif.

Jadi, semua pihak menyangka, membalas akan membuat mereka merasa lebih baik meski dalam kenyataannya, membalas itu membuat perasaan menjadi lebih buruk.

Mengapa demikian? Dugaannya adalah tanpa disadari, ada peningkatan rasa marah.

Yang diberi kesempatan untuk membalas akan mengembangkan ruminasi, yakni pikiran yang terus berulang, obsesi mengenai kejadian telah dicurangi, dan obsesi untuk membalas tindakan curang itu.

Sementara itu, yang tidak melakukan pembalasan tidak terobsesi pada kejadian, tidak terlalu ambil pusing tentang kejadian, lebih mudah melupakannya, dan tidak dikuasai oleh kemarahan.

Penelitian dalam konteks perkawinan (Fincham dan Beach, 2005) menemukan adanya perbedaan psikis para pihak.

Yang bersalah cenderung mencari detail ingatan untuk meyakinkannya bahwa perilakunya dapat dimaafkan.

Sumber: KOMPAS
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved