Sabtu, 11 April 2026

Investasi

Mengenal Istilah Psikologi Investasi

Keberhasilan dan kegagalan dalam berinvestasi tidak selalu disebabkan oleh faktor intelegensia investor, tetapi juga faktor kecerdasan emosional.

Istimewa
Ilustrasi. 

Oleh Elvyn G Masassya

Keberhasilan dan kegagalan dalam berinvestasi tidak selalu disebabkan oleh faktor intelegensia investor, tetapi juga faktor kecerdasan emosional. 

Berbagai sikap dan perilaku investor dalam menentukan instrumen investasi dan cara mengeksekusinya sering kali lebih karena faktor kecerdasan emosional. Ini adalah aspek psikologi dalam berinvestasi.

Faktor emosional yang paling sering mengemuka adalah ketika investor menyusun portofolio investasi

Secara konseptual, dengan menggunakan kecerdasan intelektual, banyak investor tahu bahwa investasi mesti berupa keranjang yang berisi berbagai instrumen investasi

Keranjang tersebut mestilah berisi jenis investasi yang merupakan perpaduan antara tujuan investasi jangka pendek, menengah, dan panjang. 

Keranjang investasi itu juga harus mengakomodasi variabel investasi yang memiliki risiko rendah, sedang, dan tinggi. 

Faktor risiko itu berbanding lurus dengan target imbal hasil investasi itu sendiri. 

Dengan demikian, ada investasi yang untuk menjaga likuiditas dengan risiko rendah dan imbal hasil rendah. 

Lalu ada instrumen investasi yang bertujuan untuk menghasilkan keuntungan tinggi atau rentabilitas sebagai pendorong pertumbuhan dan ada juga yang bersifat stabil moderat dan menjadi fondasi investasi atau disebut solvabilitas.

Masalah akan muncul ketika alokasi investasi itu harus dibentuk berdasarkan persentase dari total dana yang akan diinvestasikan. 

Dalam tahap ini, tidak sedikit investor yang tidak bisa membedakan antara ilusi dan judgment. 

Apa maksudnya? 

Ketika alokasi investasi dibuat, terkadang ada investor yang berpikir bahwa setelah kurun waktu tertentu, katakanlah enam bulan atau setahun, alokasi itu akan ditinjau lagi. 

Dalam kurun waktu enam bulan ini, maka untuk mempercepat pertumbuhan aset, alokasikan dana yang banyak pada instrumen investasi yang bisa memberikan return tinggi.

Sumber: KOMPAS
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved