resensi buku

Islam dalam Budaya Layar

Kemunculan dan maraknya produksi film Indonesia bertemakan Islam merupakan topik bahasan menarik.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO
Cover buku Mau Dibawa ke Mana Sinema Kita: Beberapa Wacana Seputar Film Indonesia. 

WARTA KOTA, PALMERAH - Kemunculan dan maraknya produksi film Indonesia bertemakan Islam merupakan topik bahasan menarik.

Dalam bukunya yang terbaru, tema ini dikupas Ariel Heryanto dalam dua bab.

Ariel antara lain membahas soal Islamisasi dalam budaya populer (budaya layar) pada dekade pertama abad ke-21.

Topik Islamisasi dalam dunia perfilman Indonesia juga menjadi bahasan Eric Sasono pada ”Film-film Indonesia Bertema Islam Dewasa Ini: Jualan Agama atau Islamisasi?” yang terdapat dalam buku Mau Dibawa ke Mana Sinema Kita: Beberapa Wacana Seputar Film Indonesia (Salemba Humanika, 2010).

Mengawali tulisannya, Eric mempertanyakan fenomena maraknya film Indonesia bertemakan Islam, apakah itu merupakan komodifikasi agama atau Islamisasi?

Apakah agama dijadikan barang dagangan sehingga pasar memengaruhi agama dan agama kehilangan makna? Atau agama yang sakral didistribusikan dan dikonsumsi lewat mekanisme pasar sebagai upaya untuk bertahan dari gempuran konsumsi global kontemporer? (hal 58).

Bagi Eric, film bertema Islam lebih dari sekadar komodifikasi agama.

Dengan menelusuri film-film bertema Islam pada masa Orde Baru dan setelah Orde Baru, Eric memperlihatkan hubungan komodifikasi dengan agama bukan proses yang mudah.

Pada era Orde Baru, komodifikasi agama tidak menjadi perhatian umat Muslim. Pada masa itu, tema-tema film Islami dipenuhi dengan wacana pembangunan.

Penggambaran Muslim dan Islam lebih banyak dikaitkan dengan isu sosial politik.

Adapun setelah Orde Baru, film digunakan untuk mempromosikan spektrum Islam yang lebih luas dengan segala aspek komersialnya.

Didorong oleh masifnya budaya konsumerisme, pasar menuntut agar identitas agama dimasukkan menjadi sebuah kekuatan produk sehingga film juga harus dapat mencerminkan berbagai model kereligiusan.

Sayangnya, menurut Eric, alih-alih berfokus pada kontribusi Muslim pada isu-isu politik dan sosial tertentu seperti yang dapat dilihat pada beberapa film di masa Orde Baru, film-film bertemakan Islam pada masa setelah Soeharto kebanyakan berurusan dengan gaya hidup individu, seperti pencarian pasangan hidup, identifikasi diri, dan pencapaian pribadi (hal 65).

Komersialisasi agama
Katinka van Heeren juga membahas soal komodifikasi agama dalam perfilman Indonesia.

Sumber: KOMPAS
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved