Ahok Dijadikan sebagai Ikon Revolusi Mental
Kepolisian RI (Polri) menjadikan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama sebagai ikon revolusi mental.
Penulis: Mohamad Yusuf |
WARTA KOTA, BALAI KOTA -- Kepolisian RI (Polri) menjadikan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, sebagai ikon revolusi mental.
Hal tersebut, dijadikan sebagai materi pendidikan dalam Sekolah Pimpinan Menengah (Sespimma) Polri.
Seperti yang diungkapkan oleh Kepala Sekolah Pimpinan Menengah (Sespimma) Polri, Brigjen Muktiono saat menggelar seminar "Revolusi Mental dalam Meningkatkan Karakter Sumber Daya Manusia Polri" di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (11/6/2015).
Menurut Muktiono, pihaknya menjadikan Ahok sebagai ikon revolusi mental, karena integritasnya yang baik.
"Saat ingin melaksanakan seminar, kami lakukan diskusi panjang. Kita lihat sosok Ahok yang bisa dijaidkan sebagai ikon dalam revolusi mental. Karena gaya kepemimpinan dan integritasnya yang dipercaya masyarakat. Beliau telah membawa perubahan DKI Jakarta lebih baik," kata Muktiono, usai acara tersebut.
Para siswa yang rata-rata berpangkat Ajun Komisaris Polisi (AKP) dan Komisari Polisi (Kompol), ini melanjutkan pendidikannya di Sespimma.
Sebanyak 100 siswa dari seluruh Indonesia itu, menjalani pendidikan selama empat bulan dan dalam waktu dua pekan ke depan akan selesai.
"Dengan seminar revolusi mental ini, kami ingin semua lulusan Sespimma angkatan 53 nanti akan memberi perubahan ditempat mereka bertugas ke arah yang lebih baik kepada masyarakat yang optimal. Sehingga tema Revolusi mental yang dilakukan benar-benar terwujud," katanya..
Dengan revolusi mental tersebut, lanjut Muktiono, dilakukan oleh Polri agar dapat merubah pandangan masyarakat dan sudah saatnya polri berbenah guna mengoptimalkan kinerja polri dalam tugasnya yang berlandaskan profesionalisme, modern dan bermoral.
"Seperti kita ketahui, bahwa selama ini polisi cuma dianggap selalu mencari kesalahan orang seperti menilang dijalan, keperpihakan polisi terhadap pengusaha, atau justru backing. Dan tidak kalah penting harus ada reward and punishmen terhadaop anggota polisi ke jenjang yang lebih baik. Jadi stigma ini harus diubah," tegasnya.
Dengan kegiatan tersebut, ia juga berharap, agar hubungan sinergitas antara regulator dan penegak hukum berjalan dengan baik dan dapat mewujudkan revolusi mental sesuai konsep pemerintah saat ini.
"Sudah saatnya berbenah diri mengubah paradigma lama menuju yang baru hingga mewujudkan postur Polri yang profesional, modern dan bermoral. Dengan seminar ini, kami juga berharap bisa bersinergi dengan Pemerintah Daerah," katanya.
Sementara itu, Basuki mengatakan, revolusi mental itu sendiri harus dimulai oleh si pemimpin.
Yaitu jika pemimpinnya lurus, maka jajaran di bawahnya pun lurus.
Meskipun, kata Basuki, untuk melakukan revolusi mental itu tidak mudah. Pasalnya, banyak perlawanan. Karena itu, dibutuhkan niat dan keberanian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/ahok-naik-lori_20150610_084512.jpg)