Mahasiswa Tewas di Danau UI

Karakter Akseyna Tak Punya Potensi Bunuh Diri

Sampai Akseyna Ahad Dori (18) meninggal, ternyata karakternya tak pernah berubah.

Karakter Akseyna Tak Punya Potensi Bunuh Diri
depoklik.com
Akseyna Ahad Dori. 

WARTA KOTA, PALMERAH— Sampai Akseyna Ahad Dori (18) meninggal, ternyata karakternya tak pernah berubah. Tetap berkarakter agresif, tidak mudah menyerah dan kritis dengan pemikiran yang sangat tajam. Sama sekali tak punya potensi bunuh diri.

Grafolog Deborah Dewi mengungkapkan hal ini kepada Wartakotalive.com lewat email pada Kamis (21/5/2015). Dia menganalisa itu lewat tulisan tangan Akseyna di surat wasiatnya.

Polisi sebelumnya memang meminta Deborah menganalisa surat wasiat sejak 5 Mei 2015. Dan Deborah merampungkannya pada Selasa (19/5/2015). Lalu mempresentasikannya ke Penyelidik Reskrim Polrestro Depok pada Rabu (20/5/2015).

Menurut Deborah, untuk menganalisa karakter Akseyna, dirinya melihat tulisan tangan yang bersangkutan dari catatan awal masuk UI ( tahun 2013) hingga tulisan tangannya di akhir 2014 tidak ada perbedaan mencolok.

Lebih lanjut, tulis Deborah, dalam dokumen asli tulisan tangan almarhum yang berjumlah puluhan, ternyata memang tulisan tangan Akseyna memiliki rentang varian yang luas. Tajam, tumpul, beberapa arah kemiringan serta beberapa desain huruf yang unik.

Meskipun rentang varian tulisan tangan Akseyna luas, tulis Deborah, hal ini cukup menantang dalam proses analisa, namun proses analisa yang komperehensif dengan menggunakan 2 metode sekaligus (gestalt & atomistic) tetap bisa mengungkap karakter dasar almarhum.

Hasilnya, tulis Deborah, Akseyna masih tetap anak dengan karakter yang agresif, tidak mudah menyerah dan kritis dengan pemikiran yang sangat tajam. Meskipun karakternya menunjukkan bukan tipe orang yang terorganisir dan sedikit ceroboh, namun almarhum mampu berpikir dengan menggunakan kerangka makro dan mikro. Helicopter view & detail secara bersamaan. Cerdas.

Selain itu, dari hasil analisa tulisan dan tanda tangan di surat wasiat, Deborah menyimpulkan bahwa surat wasiat Akseyna dibuat oleh dua orang.

Orang pertama adalah Akseyna. Sedangkan orang kedua adalah seseorang yang hendak meniru sebagian tulisan di surat wasiat dan menggores tanda tangan di surat wasiat. Sehingga tanda tangan di surat wasiat itu bukan milik Akseyna.

Kematian mahasiswa Program Studi Biologi Fakultas MIPA Universitas Indonesia (UI) memang jadi misteri sampai kini. Ada sejumlah kejanggalan yang membuat polisi bingung apakah Akseyna mati dibunuh atau bunuh diri.

Salah satu kejanggalannya adalah ditemukannya surat wasiat oleh rekan Akseyna sebelum jenazah Akseyna teridentifikasi. Dan kini ternyata hasil analisa Grafolog Deborah Dewi, surat wasiat itu dibuat oleh dua orang, dan tanda tangannya bukan milik Akseyna.

Akseyna ditemukan tewas mengambang di danau Kenanga UI pada Kamis (26/3/2015). Dia ditemukan dalam posisi memakai tas berisi batu pemberat seberat 14 kilogram.

Lalu pada Minggu (29/3/2015), sebelum jenazah Akseyna teridentifikasi, seorang rekan Akseyna bernama Jibril datang ke kos Akseyna dan menemukan surat wasiat itu.

Makanya kemudian polisi menduga Jibril memiliki alibi dalam kasus ini. Sehingga polisi memilih menganalisa surat wasiat itu. Bahkan polisi sebelumnya sudah meminta Puslabfor untuk menganalisa, baru setelah itu meminta pula Grafolog Deborah Dewi untuk menganalisanya.

Penulis: Theo Yonathan Simon Laturiuw
Editor: Suprapto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved