Minggu, 26 April 2026

Tes keperawanan Prajurit TNI, Panglima TNI: Masih Relevan

Karena terkait dengan kepribadian dan mental (moralitas) calon prajurit, kata Panglima TNI Jenderal Moeldoko

WARTA KOTA, GAMBIR - Tes keperawanan calon prajurit TNI dinilai masih relevan untuk terus dijadikan salah satu persyaratan masuk calon.

"Karena terkait dengan kepribadian dan mental (moralitas) calon prajurit," kata Panglima TNI Jenderal Moeldoko, di kompleks Istana Negara, Jakarta, Jumat (15/5).

"Tes keperawanan itu salah satu persyaratan. Terus kenapa masalahnya? Kalau ini untuk kebaikan kenapa mesti dikritiki, kan begitu," tandas Panglima.

Moeldoko jelaskan, ada tiga syarat seseorang menjadi calon prajurit TNI. Pertama, moralitas, akademik dan fisik. Tes keperawanan masuk dalam penilaian moral seseorang sebelum masuk menjadi anggota TNI.

"Tiga hal itulah yang menjadi sandaran utama kita di dalam menjadi seorang prajurit. Jadi mulai dari awal sudah harus kita lihat moralitynya bagus ga, fisknya bagus ga, akademiknya bagus ga. Itu bagian dari salah satu bentuk," tegasnya.

Sebelumnya, juru bicara TNI, Mayjen M. Fuad Basya menegaskan, tes keperawanan calon prajurit TNI masih relevan karena terkait dengan kepribadian dan mental.

Hal ini dikatakan Fuad Basya kepada wartawan BBC Ging Ginanjar, terkait seruan lembaga pemantau HAM Human Rights Watch (HRW), agar TNI menghentikan segala bentuk tes keperawanan terhadap para calon prajurit perempuan, yang "invasif" dan "menghinakan."

Dikatakan Fuad Basya, TNI punya kriteria sendiri dalam menentukan persyaratan bagi para calon pajuritnya, dan pihak lain tak berhak untuk intervensi.

Namun menurut HRW, TNI mewajibkan tes keperawanan selain pada para calon prajurit, juga kepada para calon istri prajurit TNI.

HRW dalam pernyataannya menegaskan, "Militer Indonesia mesti secepatnya mengakhiri apa yang disebut tes keperawanan, yang melanggar hukum HAM internasional yang melarang perlakukan kejam, tak manusiawi dan menghinakan."

Organisasi yang bermarkas di New York itu melakukan wawancara dengan 11 perempuan yang diharuskan menjalani tes keperawanan di beberapa rumah sakit militer di Bandung, Jakarta dan Surabaya, serta sejumlah dokter yang melakukan tes itu.

BACA JUGA: VIDEO: Ini Pengakuan Tes Keperawanan Calon Anggota TNI

Disebutkan HRW, dalam temuan mereka, tes itu antara lain dilakukan dengan "metoda dua jari" yang invasif: dokter memasukan dua jarinya, untuk menentukan apakah selaput dara masih utuh.

Dalam tanggapannya, jubir TNI Mayjen Fuad Basya mengakui, "Seseorang yang sudah tidak perawan, mendaftar mau jadi prajurit TNI, ada beberapa kemungkinan. Mungkin karena kecelakaan, bisa juga karena sakit."

Namun, lanjut Fuad Basya, bisa juga "karena habit, kebiasaan. Karena memang kelakuannya sudah seperti itu. TNI tidak bisa menerima calon prajurit seperti itu."

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved