Mahasiswa Tewas di Danau UI

Saksi Kunci Kematian Akseyna Sering Berubah-ubah

Seorang saksi kematian Akseyna Ahad Dori, mahasiswa Universitas Indonesia, tengah diperiksa polisi

Saksi Kunci Kematian Akseyna Sering Berubah-ubah
Kompas.com/Robertus Belarminus
Kapolsek Beji Komisaris Gusti Ayu Supiati di lokasi penemuan mayat di Danau Kenanga, Universitas Indonesia, Depok. Kamis (26/3/2015). 

WARTA KOTA, DEPOK— Seorang saksi kematian Akseyna Ahad Dori, mahasiswa Universitas Indonesia, tengah diperiksa polisi soal keterangannya yang kerap berubah-ubah. Apakah saksi ini nantinya akan menjawab mengenai kasus kematian Akseyna?

Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel menganalisa, kemungkinan saksi yang tengah diperiksa polisi tersebut keterangannya berubah-ubah akibat false confession atau kesaksian yang keliru darinya.

"Kesaksian yang keliru, bisa diakibatkan karena sukarela, di bawah paksaan atau internalisasi," kata Reza, saat dihubungi Kompas.com, Kamis (14/5/2015).

Reza menjelaskan, kesaksian yang benar memiliki dua hal dasar, yakni lengkap dan akurat. Kesaksian lengkap maksudnya pengakuan saksi dari 'hulu ke hilir' tersedia. Artinya, saksi memberikan keterangannya secara lengkap.

"Sedangkan akurat berarti sesuai dengan pengalaman yang betul-betul dia lalui. Tetapi kalau informasi pengakuan sisi akurasinya sudah lemah, kemungkinan tidak sesuai pengalaman yang dia lalui," ujar Reza.

Meski menganggap saksi yang berubah-ubah ini lemah keterangannya, Reza menyarankan agar pemeriksaan tetap dilakukan. Sejak kasus ini bergulir, Reza sudah berpendapat bahwa itu kasus bunuh diri.

Hanya saja, yang menjadi sulit karena bunuh diri ini dilakukan oleh seorang dengan pribadi cerdas seperti Akseyna. "Tetapi ini tetap perlu investigasi polisi," ujar Reza.

Tanpa merujuk Akseyna, secara umum, Reza menyatakan bahwa, sosok pribadi cerdas, bisa menjadi rentan mengalami frustasi apabila menemui kegagalan.

Misalnya akibat prestasi belajar yang menurun. Buntutnya sampai mengisolasi diri dan tidak terbuka.

"Ada riset yang menemukan di dunia industri, orang-orang dengan tingkat kecerdasan luar biasa justru mengalami gangguan sama dengan orang yang kecerdasannya di bawah, dalam hal adaptasi," ujar Reza.

Menurut Reza tidak hanya kecerdasan kognitif yang penting. Tetapi, kematangan emosional juga perlu agar seimbang.

Terhadap kasus ini, bila terus berlarut tanpa kepastian, polisi harus mengakui mengalami kesulitan.

"Kalau sampai satu bulan lebih (berlarut), polisi harus rendah hati mengatakan mereka kesulitan. Karena jangan sampai ini menjatuhkan legitimasi mereka," ujar Reza. (Robertus Belarminus)

Editor: Suprapto
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved