Konsultasi
Pengendalian Hepatitis C
Menurut perkiraan penderita hepatitis C yang memerlukan terapi sekitar 4 juta orang.
Oleh dr Samsuridjal Djauzi
Sebagai salah seorang yang mengidap hepatitis C, saya khawatir hepatitis C akan berkembang menjadi penyakit hati yang serius, misalnya sirosis hati (sakit lever) atau kanker hati. Saya terdiagnosis hepatitis C tiga tahun lalu. Menurut dokter yang memantau penyakit saya, keadaan hati saya masih cukup baik.
Saya merasa gembira dan mempunyai harapan besar ketika mendapat informasi bagaimana Mesir melaksanakan pengendalian hepatitis C. Rupanya di Mesir hepatitis C merupakan penyakit yang sering dijumpai di masyarakat. Pemerintah Mesir menginginkan pada tahun 2030 nanti hepatitis C sudah dapat dikendalikan. Artinya, kasus baru sudah amat minimal. Sekitar 6,5 juta masyarakat Mesir memerlukan pengobatan hepatitis C.
Padahal terapi hepatitis C dengan suntikan interferon harganya mahal, dapat mencapai seratus juta sampai selesai. Sementara pengobatan yang lebih singkat, yaitu obat sofosbuvir, tablet yang diminum sekali sehari, manfaatnya amat bagus tetapi harganya sangat mahal. Menurut informasi yang saya peroleh, keuntungan dari obat ini adalah penggunaannya lebih mudah karena hanya satu tablet yang diminum sekali sehari dan angka keberhasilan terapi juga amat tinggi. Kabar ini tentu amat menggembirakan saya dan teman-teman pengidap hepatitis C.
Manfaat obat sofosbuvir tidak hanya untuk pencegahan hepatitis C agar tidak menjadi sirosis hati atau kanker hati, tetapi juga dapat membersihkan virus hepatitis C dari tubuh sehingga penderita tersebut tidak lagi menjadi sumber penularan bagi orang lain.
Apakah kira-kira faktor penghambat jika kebijakan serupa ingin dijalankan di Indonesia? Mohon penjelasan dokter. Kami para penderita hepatitis yang jumlahnya mungkin jutaan di Indonesia sudah tak sabar menunggu obat yang manfaatnya nyata serta harganya terjangkau. Terima kasih atas penjelasan dokter.
P di B
Memang benar penderita hepatitis C di negeri kita amat banyak.
Menurut survei sekitar 2,4 persen penduduk Indonesia tertular hepatitis C. Sekitar 80 persen hepatitis C berkembang menjadi kronis, sedangkan pada hepatitis B hanya sekitar 5 persen yang menjadi kronis.
Menurut perkiraan penderita hepatitis C yang memerlukan terapi sekitar 4 juta orang. Berapa yang mendapat terapi setiap tahunnya?
Dengan menggunakan obat interferon suntikan hanya sekitar 500 orang yang mendapat obat setiap tahun. Jadi hanya sebagian kecil.
Obat golongan DAA sofosbuvir dan ledipasvir memang memberi harapan. Terapinya relatif lebih sederhana karena cukup diberikan melalui oral, satu tablet per hari.
Tak perlu terlalu banyak pemeriksaan untuk memulai terapi dan pemantauannya hanya memerlukan pemeriksaan yang lebih sederhana dan sedikit.
Lalu bagaimana kita dapat mengadakan obat tersebut di negeri kita untuk jutaan saudara-saudara kita yang memerlukan?
Kita harus peduli pada masalah hepatitis C ini, kita harus berjuang bersama agar kita dapat menyediakan terapi yang bermanfaat ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20150503pengendalian-hepatitis-c_20150503_083401.jpg)