Konsultasi
Waspadai Pilek Alergi yang Bikin Prestasi Belajar Anak Menurun
Konsentrasi belajar pada anak yang menderita pilek alergi terganggu karena sebentar-sebentar menghapus ingus
Anak laki-laki saya berumur 11 tahun, sejak kecil menderita alergi. Sewaktu bayi, kulitnya terkena dermatitis. Menurut dokter anak, dermatitis tersebut tergolong penyakit alergi. Gangguan kulit tersebut sudah membaik sewaktu dia berumur 2 tahun. Dokter memberi tahu bahwa bayi yang menderita dermatitis atopi berisiko terkena asma.
Rupanya yang timbul kemudian bukan asma, melainkan pilek alergi. Setiap bangun tidur, dia bersin-bersin dan hidungnya berair. Dia harus selalu menghapus lendir (ingus) di hidungnya. Matanya pun gatal dan berair. Reaksi alergi baru mereda setelah pukul 10.00. Namun, esok harinya kejadian serupa berulang kembali.
Saya telah mencoba menuruti nasihat dokter dengan membersihkan debu di kamar anak saya, buku-buku dikeluarkan, pakaian dimasukkan ke lemari, dan mainan yang berbulu disimpan. Saya juga menggunakan alat pengisap debu.
Namun, upaya saya tak banyak menolong. Setiap pagi, anak saya masih mengalami gejala yang sama, yaitu bersin dan pilek. Sewaktu masuk sekolah, dia amat terganggu dengan gejala pilek alergi ini.
Saya sudah membawa dia ke dokter spesialis. Sekarang, dia mendapat obat semprot dan jika perlu minum obat tablet alergi. Sejak mendapat obat semprot hidung, gejala pileknya banyak berkurang dan tampaknya dia juga lebih ceria. Bahkan, nilai pelajaran sekolahnya juga meningkat.
Apakah penyakit pilek alergi itu sering terjadi? Bagaimana cara pengobatan yang terbaik? Apakah ada cara mencegah pilek alergi?
M di J
Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan oleh tim peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di salah satu kelurahan di Jakarta Pusat, terdapat sekitar 20 persen penduduk yang menderita pilek alergi dan sebagian besar adalah anak-anak dan remaja.
Meskipun tak berbahaya, penyakit ini dapat mengganggu kualitas hidup dan menurunkan konsentrasi belajar dan bekerja. Konsentrasi belajar pada anak yang menderita pilek alergi akan terganggu karena sebentar-sebentar harus menghapus ingus atau terganggu oleh bersin atau hidung terasa gatal yang berkepanjangan.
Pengobatan pilek alergi terdiri dari penghindaran faktor pencetus serta penggunaan obat antialergi dan obat antiradang. Obat antialergi (antihistamin) ataupun obat semprot hidung yang mengandung antiradang (steroid) bermanfaat untuk mengurangi gejala pilek alergi.
Obat antihistamin bermanfaat mengurangi gejala alergi, seperti bersin, rasa gatal, dan pilek, tetapi kurang bermanfaat dalam mengurangi hidung tersumbat. Sementara obat antiradang yang disemprotkan bermanfaat untuk mengatasi hidung tersumbat.
Penggunaan obat semprot hidung memerlukan bimbingan dokter atau apoteker karena penggunaannya harus benar sehingga obat dapat bekerja dengan baik. Obat antialergi (antihistamin) memiliki efek samping rasa mengantuk. Jika anak minum obat antialergi (antihistamin), akan timbul rasa mengantuk (bahkan mungkin tertidur) ketika belajar di sekolah. Untunglah sekarang tersedia obat antialergi (antihistamin) generasi baru yang efek samping mengantuknya berkurang.
Biasanya pilek alergi juga disertai asma. Sekitar 40-60 persen penderita pilek alergi juga menderita asma meski biasanya asmanya ringan. Oleh karena itu, pada penderita pilek alergi harus secara aktif dicari kemungkinan adanya asma.
Komplikasi pilek alergi yang cukup sering adalah sinusitis. Jika terjadi sinusitis anak mengeluh sakit kepala, mungkin timbul demam. Terapi sinusitis harus dilakukan dengan baik, termasuk pemberian antibiotik yang adekuat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20150420waspadai-pilek-alergi-yang-bikin-prestasi-belajar-anak-menurun_20150420_130556.jpg)