resensi buku

Kapitalisme untuk Manusia

Argumen buku itu dapat diringkas begini. Kecuali periode 1930-1980, kapitalisme selalu ditandai ketimpangan tajam

KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Cover buku Capital in the Twenty-First Century. 

Oleh B Herry Priyono

Abba Lerner (1903-1982), ekonom eksentrik itu, bicara tentang metodologi ekonomi neoklasik dalam suatu pidatonya pada tahun 1971, yang kemudian dimuat dalam American Economic Review (1972).

"Saya ingin tekankan, solusinya berupa penggantian konflik politik menjadi transaksi ekonomi. Transaksi ekonomi adalah soal politik yang dianggap selesai. Ekonomi dijuluki ratu ilmu-ilmu sosial dengan memilih persoalan yang dianggap sudah terpecahkan sebagai obyek kajiannya”.

Tentu saja, masalah politik dalam transaksi ekonomi hanya disembunyikan dan tidak lenyap. Namun, itulah yang disebut penghematan metodologis dalam kinerja ilmu. Tanpa itu, yang ada hanya omongan campur baur. Ini juga berarti ilmu adalah teropong untuk memahami suatu dimensi realitas, tapi bukan realitas itu sendiri.

Kemacetan Jakarta itu gejala geografis, ekonomis, politis, kultural, atau apa? Setiap ilmu mendekati perkara menurut teropong metodologisnya, tetapi kemacetan Jakarta adalah semesta gejala yang selalu mengelak dari segregasi metodologis ciptaan dunia akademis. Meminjam ungkapan klasik, setiap ilmu merupakan bentuk ceteris paribus (faktor dan pendekatan lain ditangguhkan). Namun, realitas sebenarnya tak pernah mengenal ceteris paribus.

Justru karena itu dunia ilmu selalu dihantui bahaya menganggap metodologi sebagai realitas. Dan itu membuat ilmu merosot ibarat kamar tanpa pintu dan jendela. Inilah yang rupanya membayangi ilmu ekonomi. Kebudayaan yang terpisah dari ekonomi adalah mitos, sebagaimana ekonomi yang terpisah dari politik adalah ilusi.

Di pusaran pembongkaran ilusi inilah berdiri Thomas Piketty dengan buku berjudul Le capital au XXIe siècle (Agustus 2013). Buku setebal 685 halaman itu terbit Maret 2014 dengan judul Capital in the Twenty-First Century. Dunia pemikiran ekonomi bergolak, ketika kita di Indonesia melewatkannya lantaran kesibukan Pemilu 2014.

Ketimpangan tajam
Pesona buku ini salah satunya terletak dalam gaya penulisan. Tanpa mengorbankan keketatan teoretis dan metodologis, buku ini ditulis dengan cara yang terbaca orang biasa yang punya cukup pendidikan.

Sungai sejarah menjadi kisah hidup tentang mimpi dan ironi, brutalitas dan impunitas. Apa isinya dan mengapa menyulut kontroversi?

Argumen buku itu dapat diringkas begini. Kecuali periode 1930-1980, kapitalisme selalu ditandai ketimpangan tajam yang disebabkan tingginya imbalan akumulasi modal dibanding tingkat pertumbuhan ekonomi dan abad ke-21 akan ditandai ketimpangan setajam abad ke-19, kecuali terjadi reformasi radikal.

Bukankah itu juga kesan kita selama ini? Di Indonesia, koefisien Gini sebagai penanda ketimpangan melonjak dari 0,30 (tahun 2000) ke 0,42 (akhir 2014). Kita juga tahu gerakan Occupy Wall Street di New York sejak 2011 merupakan protes ketimpangan ”99 lawan 1 persen”.

Apa yang baru? Kesan dapat mengecoh, sama seperti orang pernah yakin matahari mengelilingi bumi tapi lalu terbukti bumilah yang mengitari matahari.

Dibantu rekan-rekannya, Piketty menerobos jauh ke 2-3 abad silam dengan meneliti laporan pajak, terutama di Perancis, Inggris, dan AS.

Lalu ia juga merentangkan jangkauan ke Jerman, Swedia, Kanada, Australia, dan negara sedang berkembang seperti Tiongkok, India, Afrika Selatan, Kolombia, dan Indonesia.

Rute metodologis ini ditempuh untuk melihat tingkat imbalan modal, yang lalu dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi.

Sumber: KOMPAS
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved