Kamis, 23 April 2026

Jangan Gantikan Pola Asuh Orangtua dengan Gadget

Jika dilakukan secara berlebihan, ada proses alami dalam pola asuh orangtua yang tergantikan.

Penulis: |

WARTA KOTA, PALMERAH -- Gadget sudah merasuk ke dalam kehidupan masyarakat saat ini. Saat di restoran, suatu keluarga yang duduk bareng di meja makan, malah sibuk dengan gadgetnya masing-masing.

Balita yang masih duduk di stroller sudah asyik dengan tabletnya, bahkan ada anak usia tiga tahun harus nonton You Tube di tabletnya sebelum tidur.

Psikolog Elizabeth T Santosa mengatakan walaupun di satu sisi, kehadian gadget dapat mempermudah serta membantu hidup orangtua dalam mengasuh anak, namun jika dilakukan secara berlebihan, ada proses alami dalam pola asuh orangtua yang tergantikan.

“Diperlukan suatu aturan main untuk menyeimbangkan fungsi media agar tidak menggantikan peran orangtua dalam hidup anak. Penggunaan media dan teknologi yang tidak terkontrol akan sangat membahayakan anak. Media dan teknologi dapat menjerumuskan anak ke dalam jurang kecanduan serta 1001 masalah lainnya,” kata Elizabeth saat peluncuran buku yang ditulisnya dengan judul ‘Raising Children in Digital Era’ di Toko buku Gramedia Matraman, Rabu (25/3/2015).

Perkembangan teknologi selama kurun waktu 15 tahun telah mempengaruhi perkembangan anak. Era 15 tahun ini dijadikan patokan bahwa internet mulai booming tahun 1996.

Kurang lebih selama kurun waktu tersebut, perkembangan media teknologi melalui aplikasi games dan media sosial bergerak bagaikan gelombang tsunami. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak juga betah berlama-lama di layar monitor gadget.

Tulisan tangan sulit dibaca

Dari pengamatannya, ada beberapa perubahan dibandingkan anak-anak di bawah kurun waktu 15 tahun lalu dengan sebelum itu. Di antaranya perkembangan motorik, baik motorik halus dan kasar.

Seringkali guru sekolah atau orangtua mengeluh tulisan tangan anak yang kurang rapi, bahkan sulit dibaca. Begitu juga kerapian saat berprakarya.

“Mayoritas anak-anak zaman sekarang memiliki kemampuan motorik halus yang tidak sebaik anak zaman dulu. Membaca hasil ujian mahasiswa kadang menghabiskan waktu yang lama, karena tulisan siswa yang berantakan dan sulit dibaca dengan jelas,” kata Elizabeth yang juga menjadi dosen di universitas swasta di Cikarang.

Begitu juga kemampuan motorik kasar yang semakin berkurang akibat berlebihan penggunaan media dan teknologi pada anak.

Pergeseran moral

Tolerasi, empati, dan saling menghargai sudah semakin minim pada generasi muda sekarang.

Tidak ada lagi rasa hormat terhadap senior atau orang yang lebih tua. Ekspos media dan tontonan program yang minim moral memiliki pengaruh terhadap perilaku anak.

“Anak terperangkap dalam keasyikan media dan gadget, sehingga lupa melakukan interaksi dengan orang-orang di sekelilingnya,” kata Elizabeth.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved