Minuman Keras

Aprindo: Kaji Ulang Tata Niaga Minuman Beralkohol

Aprindo meminta pemerintah mengkaji ulang tata niaga minuman beralkohol golongan A di minimarket karena dinilai dapat memicu pasar gelap.

Aprindo: Kaji Ulang Tata Niaga Minuman Beralkohol
kaskus.co.id
Minuman bir di rak minimarket. 

WARTA KOTA, BOGOR - Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) meminta pemerintah untuk mengkaji ulang tata niaga minuman beralkohol golongan A di tingkat minimarket karena dinilai dapat memicu pasar gelap.

"Kami minta tata niaga distribusinya dikaji kembali paling lambat enam bulan terhitung sejak Permendag itu diberlakukan secara efektif," ujar Wakil Sekretaris Jenderal Aprindo, Satria Hamid, dalam siaran persnya kepada Antara, di Bogor, Selasa (10/3/2015).

Satria menjelaskan kajian tersebut dilakukan guna membuktikan ada atau tidaknya dampak positif yang ditimbulkan secara langsung dari perjualan minuman beralkohol golongan A di minimarket.

Dikatakannya permintaan Aprindo tersebut merespon Permendag Nomor 6 Tahun 2015 tentang penjualan minuman beralkohol golongan A di minimarket yang diberlakukan secara efektif 16 April mendatang, sebagai revisi Permendag Nomor 20/M-DAG/PER/4/2014 tentang hal yang sama.

"Salah satu hal yang diatur dalam Permendag Nomor 6/2015 ini terkait larangan minimarket dan pengecer menjual minuman beralkohol dengan kadar alkohol di bawah 5 persen atau jenis bir," katanya.

Menurutnya kajian tersebut bisa dilakukan oleh lembaga independen. Penggunaan kajian ini membuktikan opini masyarakat terkait penjualan bir di minimarket dan dampak yang ditimbulkannya. Jika dalam kajian tersebut tidak ditemukan dampak negatif dari penjualan bir di minimarket, maka pemerintah perlu merevisi regulasi tersebut termasuk memuat dispensasi bagi kawasan tertentu, seperti kawasan wisata.

"Kalau tidak terbukti, harus direvisi. Pemerintah hanya perlu memaksimalkan pengawasan untuk menepis kekhawatiran masyarakat," katanya.

Pemerhati masalah korporasi di Indonesia, Taufik Ismail mengatakan regulasi Permendag Nomor 6/2015 tersebut justru membuka peluang terhadap kenaikan intensitas kegiatan pasar gelap minuman beralkohol.

Ia mengatakan konsumsi bir berbanding lurus dengan pendapatan yang siap dibelanjakan (disposable income-red). Dilihat dari jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia, diasumsikan konsumsi minuman beralkohol juga meningkat.

"Jika melihat peningkatan jumlah kelas menengah di Indonesia, diasumsikan konsumsi minumam beralkohol juga akan meningkat. Jika permintaan terus tumbuh sedangkan pasokan barang di pasar menyusut, justru akan memincu kegiatan pasar gelap," katanya.

Halaman
123
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved