Konsultasi

Alasan Perlunya Menghukum Anak

Sejak zaman dahulu sampai kini, penjelasan atau kiat menghukum anak sering berbenturan antara satu orang dan lainnya.

Oleh Agustine Dwiputri

Sejak zaman dahulu sampai kini, jawaban untuk pertanyaan di atas sering berbenturan. Satu pihak mengatakan perlu, pihak lainnya merasa tidak perlu. Bagaimana Anda sendiri sebagai orangtua? Mari kita simak pandangan berikut ini sehingga dapat membantu orangtua untuk menentukan pilihan.

Pihak orangtua yang mengatakan hukuman terhadap anak yang melakukan kesalahan sangat diperlukan sebagai ganjaran atas perbuatannya beralasan agar anak mengerti dan belajar membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Juga karena orangtua merasa kewalahan, tak tahu harus berbuat apa lagi menghadapi kenakalan anak.

Pihak lain mengatakan bahwa tidak perlu. Apalagi jika hukuman itu bersifat fisik, seperti memukul, mencubit, menampar, ataupun bersifat verbal yang menyakitkan hati, seperti mengatai-ngatai. Hasil penelitian dari penulis buku How to Talk so Kids Will Listen & Listen so Kids Will Talk, yaitu Faber and Mazlish (2012), menyimpulkan bahwa pengalaman para orangtua dulu ketika mendapat hukuman cenderung dikenang sebagai sesuatu yang negatif, seperti menimbulkan perasaan benci, dendam, ingin melawan, rasa bersalah, tidak berharga, dan mengasihani diri sendiri.

Meski demikian, mereka masih khawatir, ”Jika kami menyerah untuk tidak menghukum, anak-anak kami tidak akan bertingkah laku sesuai jalur yang benar.”

Bagaimana sebaiknya
Dr Ginott (2003) tegas mengatakan, seorang anak memang harus mengalami konsekuensi dari perilakunya yang buruk, tetapi bukan dengan hukuman. Dikatakan bahwa dalam suatu hubungan yang diwarnai oleh rasa sayang dan peduli, tidak ada ruang untuk hukuman.

Hukuman tidak akan berhasil membuat anak mengerti kesalahannya, tetapi justru merupakan gangguan. Alih-alih anak merasa menyesal atas apa yang telah ia lakukan dan berpikir tentang bagaimana dia bisa menebus kesalahan, dia justru akan menjadi terpaku pada fantasi untuk membalas dendam. Dengan kata lain, dengan menghukum anak, kita benar-benar menghalangi mereka untuk melalui suatu proses batin yang sangat penting dalam menghadapi perilakunya sendiri.

Beberapa alternatif
Faber and Mazlish (2012) mengatakan pada saat kita tidak memiliki pandangan jauh ke depan atau energi lagi menghadapi perilaku anak yang tak diharapkan, ada beberapa alternatif tindakan yang bukan berupa hukuman yang dapat digunakan secara langsung.

1. Tunjukkan suatu cara untuk membantu anak.
Daripada mengancam, ”Oh kamu akan merasakan sakit dipukul ayahmu nanti,” lebih baik, ”Coba kamu bersihkan lantai dari bekas tanah yang ada di sepatumu supaya nanti kalau ayah pulang tidak melihat rumah kita kotor.”

2. Ekspresikan ketidaksetujuan secara kuat (tanpa menyerang karakter anak).
Daripada mengatakan, ”Kelakuanmu seperti binatang liar! Kamu tidak boleh nonton TV malam ini,” lebih baik ucapkan dengan tegas, ”Mama tidak suka dengan kelakuanmu berlarian di supermarket ini! Ini mengganggu pembeli lain.” Atau ungkapkan perasaan Anda secara kuat, seperti, ”Ayah kesal karena topi baru ayah kau tinggalkan di luar dan basah kena air hujan.”

3. Ungkapkan harapan Anda.
”Ayah berharap jika kau pinjam topi ayah, kembalikan ke tempatnya dalam kondisi yang baik.”

4. Tunjukkan kepada anak bagaimana cara menebus kesalahan.
”Kamu sudah memecahkan gelas ayah. Coba sekarang Putri buatkan lagi teh untuk ayah di gelas lain sambil menuliskan permohonan maaf di kartu yang sudah kau warnai kemarin.” Pendekatan semacam ini akan mendorong anak untuk bertindak lebih bertanggung jawab.

5. Tawarkan suatu pilihan.
Daripada mengatakan, ”Awas ya, jika mama melihat kamu berlarian lagi, kamu akan mama pukul!”, cobalah menawarkan suatu pilihan, ”Nael, tidak ada lari-larian di supermarket, ya. Kamu boleh pilih, mau berjalan dengan manis atau duduk di troli? Kamu yang menentukan.”

6. Biarkan anak mengalami konsekuensi dari perilakunya.
Anak tak diajak pergi ke supermarket lagi karena sebelumnya beberapa kali tak patuh dengan kelakuan berlarian terus. Ketika anak merengek ingin ikut, ibu menanyakan kira-kira apa sebab anak tak diajak lagi, bukan langsung menunjuk pada kesalahan anak. Meski anak berjanji tak akan berbuat lagi, ibu dapat mengatakan bahwa dia sudah sering diberi kesempatan, tapi dilanggar lagi sehingga hari ini ibu akan pergi sendirian saja. Jadi, biarkan anak mengalami konsekuensi dari perilaku tidak patuhnya beberapa waktu/hari yang lalu.

Jika masalah berlanjut
Ketika perilaku negatif terus berlanjut, kita biasanya dapat berasumsi bahwa masalah anak lebih kompleks. Untuk masalah yang rumit, diperlukan keterampilan berkomunikasi yang lebih canggih dan cara-cara yang sangat terperinci untuk menyelesaikannya.

Sumber: KOMPAS
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved