Konsultasi

Operasi Batu Kandung Empedu

Saya takut menjalani operasi karena itu sementara saya berobat dengan pengobatan tradisional.

Oleh dr Samsuridjal Djauzi

Sudah sejak sembilan bulan ini saya (39) mengalami rasa tak nyaman di daerah ulu hati. Semula saya mengira gejala ini hanya gejala sakit lambung biasa. Setelah beberapa kali berkonsultasi, akhirnya dokter menemukan bahwa di kandung empedu saya terdapat beberapa batu. Untuk sampai ke kesimpulan tersebut, saya telah menjalani beberapa pemeriksaan, seperti pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan rekaman jantung, sampai dengan pemeriksaan ultrasonografi (USG). Pemeriksaan rekaman jantung dilakukan karena, menurut dokter, laki-laki berumur sekitar empat puluh tahun harus waspada terhadap kemungkinan penyakit jantung koroner.

Untuk terapi batu kandung empedu, dokter menganjurkan dilakukan operasi karena ukuran batu hampir tak memungkinkan untuk dihancurkan dengan obat. Saya takut menjalani operasi karena itu sementara saya berobat dengan pengobatan tradisional. Namun, pengobatan tersebut tak berhasil karena ulangan USG masih memperlihatkan keberadaan batu kandung empedu. Bahkan, saya pernah mengalami demam yang cukup tinggi sehingga harus dirawat di rumah sakit. Diagnosis dokter adalah kandung empedu saya mengalami infeksi dan mungkin faktor pencetusnya adalah batu di kandung empedu tersebut.

Akhirnya saya menyadari bahwa saya harus menjalani operasi agar semua batu tersebut dapat dibuang. Dokter memberi pilihan-pilihan operasi biasa, operasi laparaskopi atau pengeluaran batu dengan cara endoskopi. Setelah mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan ketiga tindakan tersebut, saya memilih operasi dengan cara laparoskopi. Menurut dokter, kelebihan operasi dengan teknik laparoskopi adalah luka sayatannya kecil dan lama perawatan di rumah sakit dapat lebih singkat.

Apakah sering ditemukan batu di kandung empedu? Apa yang dapat terjadi jika tidak dilakukan operasi untuk mengeluarkan batu tersebut? Apakah operasi batu kandung empedu cukup aman? Apakah saya harus dirawat di unit rawat intensif setelah operasi? Apa komplikasi operasi batu kandung empedu pada penderita seumur saya? Terima kasih dokter.

M di J

Jika Anda sudah memahami manfaat operasi dan mengetahui risiko yang mungkin terjadi, Anda akan diminta menandatangani lembar persetujuan tindak medik (informed consent). Namun secara umum dapat disampaikan bahwa operasi batu empedu di negeri kita merupakan operasi yang sudah sering dilakukan, baik di rumah sakit besar maupun di rumah sakit daerah.

Operasi laparaskopi memerlukan peralatan tambahan. Begitu juga dengan endoskopi terapi yang memerlukan alat khusus sehingga mungkin hanya dapat dilakukan pada rumah sakit yang mempunyai dokter terlatih dan peralatan-peralatan tersebut.

Setelah dinyatakan layak untuk menjalani operasi, Anda mungkin akan dirawat di rumah sakit sehari sebelum tindakan operasi. Pada hari perawatan tersebut akan dilakukan persiapan, seperti puasa, pemberian antibiotik, pencegahan, dan lain-lain. Dokter spesialis anestesi biasanya akan berkunjung dan melakukan pemeriksaan terakhir sebelum operasi. Operasi dilakukan di ruang operasi dan setelah selesai operasi, Anda akan diawasi di ruang pemulihan.

Biasanya operasi batu kandung empedu tidak memerlukan pengawasan di ruang rawat intensif. Jika pada pemantauan di ruang pemulihan semua berjalan baik, Anda akan dipindahkan ke ruang rawat biasa. Jika tak ada penyulit, dalam beberapa hari Anda sudah boleh berobat jalan tetapi masih harus kontrol ke dokter untuk pemeriksaan kesehatan Anda, termasuk bekas luka operasi. Luka bekas operasi dengan teknik laparaskopi memang lebih kecil sehingga banyak orang yang menyukai operasi dengan teknik ini.

Risiko operasi
Risiko operasi meski jarang tetapi dapat terjadi, seperti infeksi dan perdarahan. Untuk menurunkan risiko infeksi, Anda biasanya akan mendapat obat antibiotik pencegahan sehari sebelum operasi. Tindakan operasi harus dilakukan dalam keadaan steril. Setiap rumah sakit sekarang sudah mempunyai prosedur standar untuk menjamin sterilitas. Risiko perdarahan juga dapat terjadi. Jika perdarahan sedikit, tidak diperlukan tambahan darah. Namun jika banyak, mungkin perlu transfusi.

Risiko operasi, terutama risiko infeksi, dapat meningkat pada penderita yang kekebalan tubuhnya menurun, misalnya orang yang berusia lanjut. Di samping risiko infeksi, pada orang yang berusia lanjut juga dapat mengalami penurunan fungsi organ tubuh, seperti penurunan fungsi ginjal, paru, dan jantung. Karena itu, operasi pada usia Anda jauh lebih aman jika dibandingkan dengan yang berusia lanjut (lebih dari 60 tahun). Sekarang keadaan tertentu pada orang yang akan dioperasi, misalnya kelainan ginjal dan lain-lain, memungkinkan dilakukan pilihan tindakan selain operasi konvensional, baik laparoskopi atau endoskopi terapi yang lebih sedikit memengaruhi fungsi organ tubuh.

Keberhasilan terapi merupakan kerja sama berbagai pihak. Kerja sama yang baik antara pasien dan petugas kesehatan. Petugas kesehatan yang terlibat dalam tindakan operasi di antaranya dokter spesialis bedah, dokter spesialis anestesi beserta timnya, perawat, dan jangan dilupakan tim rehabilitasi medis. Acapkali pasien hanya mengenal dokter spesialis bedahnya saja, padahal tim bedah didukung oleh berbagai disiplin ilmu kedokteran yang lain.

Dewasa ini kecenderungan yang timbul adalah lebih cepat mobilisasi sehabis operasi. Pasien tak boleh lagi berlama-lama berbaring di tempat tidur. Jika sudah memungkinkan, pasien akan dianjurkan untuk segera mobilisasi, duduk, berdiri, atau berjalan. Lama berbaring di tempat tidur dapat menimbulkan komplikasi pneumonia atau trombosis (penyumbatan) pembuluh darah, terutama pada pasien berusia lanjut. Apabila tidak dilakukan operasi batu kandung empedu, dapat menimbulkan infeksi dan juga mungkin sumbatan saluran empedu.

Pasien perlu memahami manfaat tindakan medis yang akan dilakukan dan risiko yang mungkin dihadapi. Meski risiko tindakan operasi biasanya jarang terjadi, pasien dan dokter harus tetap hati-hati.

Sumber: WartaKota
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved