Polisi Baru Digaji Rp 3,5 Juta per Bulan

Setelah 7 bulan jalani pendidikan di sekolah bintara, para polisi muda ini sudah bergaji Rp 3,5 juta per bulan

WARTA KOTA, SEMANGGI - Seragamnya kelihatan lebih besar dari tubuhnya. Kedodoran. Rambutnya masih botak. Berjalan tertib dan memberi hormat ke semua polisi yang Ia lewati atau berpapasan. Dan kelihatan canggung ketika ditugaskan mengatur lalu lintas di jalanan Jakarta yang semerawut dan macet.

Begitulah tingkah anggota baru Polda Metro Jaya. Angkatan 40. Jumlahnya ada 1.314 personel. Mereka datang dari berbagai latar belakang. Tapi sebagian besar baru lulus sekolah menengah. Menjalani pendidikan selama tujuh bulan di sekolah bintara. Sekarang mereka bergaji 3,5 Juta per bulan. Sudah setara dengan gaji awal fresh graduate S1 yang kerja di perusahaan swasta. Bahkan lebih tinggi.

Sampai siang pukul 13.00, Jumat (20/2/2015), Detasemen III belum kebagian tugas. Baru Detasemen I dan Detasemen II yang pergi bertugas. Sebagian besar dapat bagian mengatur lalu lintas. Ditempatkan di titik-titik jalan Jakarta yang padat dan ramai.

Seluruh polisi baru memang masuk jadi anggota Sabhara untuk sementara. Mereka dibagi jam bertugas di tiga detasemen. Dalam tiap detasemen ada sekitar empat kompi pasukan polisi baru.

Tugas harian mereka baru sebatas pengamanan. Mulai dari pengamanan unjuk rasa dan pengaturan lalu lintas. Apabila ada hari besar, mereka juga akan dilibatkan untuk pengamanan.

Sambil menunggu tugas, anak-anak baru di Detasemen III ini mengisi Hall Gedung Sabhara Polda Metro Jaya. Menggelar karpet besar dan mulai sibuk sendiri. Ada yang memainkan ponsel, ada yang bicara ngalor-ngidul dengan rekannya, dan ada yang tidur.

Ini bulan kedua polisi baru ini menjalani rutinitas ini. Mereka mulai masuk Polda Metro Jaya awal Januari 2015 lalu. Setelah menyelesaikan tujuh bulan pendidikan Bintara di tiga tempat berbeda. Makassar, Lampung, dan Jambi.

Brigadir Polisi Dua (Bripda) Adi Sapta Nugraha (19), ada di Hall Gedung Sabhara, Jumat (20/2/2015). Memainkan ponselnya sambil bercerita ngalor-ngidul. Topik pembicaraan dengan temannya kurang jelas. Tapi sebagian kedengaran cuma saling meledek saja.

Adi termasuk beruntung. Dia hanya perlu satu kali ikut tes masuk Bintara Polri. Padahal beberapa rekannya butuh dua kali ikut sampai akhirnya diterima. "Saya memang pingin kerja dulu. Kalau kuliah saja kan belum tentu nanti bisa kerja," ucap Adi kepada Wartakotalive.com, siang itu.

Dari deretan paman, sepupu dan kakak adiknya, Adi berbeda. Tak ada satupun dari keluarganya yang memilih jadi Polisi. Semuanya pergi ke bangku kuliah usai lulus SMA.

Makanya Adi agak bingung darimana dia punya keinginan ikut tes Polisi. Jadi keinginannya memang hanya satu, ingin bekerja dulu dan meringankan beban orangtua.

Tapi begitu ikatan dinasnya berakhir, Adi punya rencana lain. Dia mau masuk kuliah. Ingin mengambil program hukum dengan biaya sendiri. Kembali ke jalur keluarganya yang senang kuliah.

Disamping Adi ada Bripda Taufik Hidayat (19), lulusan SMK Yaperjas jurusan perkantoran di Jakarta. Taufik masih sibuk membuka akun media sosialnya siang itu. Tertawa sendiri melihat percakapan dengan rekannya.

Nasib Taufik mirip Adi. Dia menembus Bintara Polri dalam satu kali percobaan.Dia lega cita-citanya jadi Polisi kesampaian. Baginya jadi polisi seperti tujuan hidup. Dia kepingin meneruskan jejak kakeknya. Dulu kakeknya, Parnung juga polisi yang pensiun dengan pangkat Letnan Satu (Iptu).

"Tapi saya tak pernah ketemu kakek saya. Dia meninggal sebelum saya lahir," kata Taufik kepada Wartakotalive.com. Walau tak pernah ketemu, Taufik senang setidaknya jalan hidupnya sama dengan sang Kakek.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved