resensi buku
Membela Tradisi Lisan
Tidak benar jika ada pandangan yang menempatkan tradisi lisan lebih terbelakang daripada tradisi tulisan.
WARTA KOTA, PALMERAH - Topik tentang Kelisanan (Orality) dan Keaksaraan (Literacy) jarang disentuh kajian-kajian ilmu sosial dan humaniora. Padahal salah satu jalan untuk memahami proses dinamika kebudayaan terlebih fenomena komunikasi dan kebahasaan adalah dengan melakukan kajian terhadap perkembangan tradisi lisan dan tradisi tulisan.
Melalui pendekatan diakronis atau historis, Walter J Ong melalui buku Orality and Literacy yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Kelisanan dan Keaksaraan (Penerbit Gading, 2013), menunjukkan bagaimana sistem tulisan yang kemudian diiringi kemunculan teknologi cetak dan elektronik berpengaruh terhadap berkurangnya tradisi kelisanan. Meski demikian, pengaruh kelisanan sebagai suatu mentalitas tetap hidup.
Dalam artikel berjudul ”Suara-suara yang Sirna”, yang dimuat National Geographic edisi Juli 2012, Russ Rymer mengungkapkan fakta bahwa dalam 14 hari, satu suara (bahasa berbasis lisan) punah akibat terdesak oleh bahasa-bahasa berbasis tulis yang kini mendominasi dunia seperti Inggris, Perancis, Arab, Mandarin, Spanyol.
Pandangan umum yang salah tentang kelisanan juga mempercepat kepunahan bahasa-bahasa lisan, yang sebagian banyak dijumpai dalam masyarakat Melayu. Dalam kehidupan sehari-hari, kelisanan dianggap lebih rendah dari keaksaraan. Tradisi tulis dianggap sebagai tanda kemajuan, sedangkan tradisi lisan sebagai tanda keterbelakangan.
Masalahnya, menurut Walter J Ong, perbedaan antara kelisanan dan keaksaraan bukan sekadar urusan sarana atau media atau teknologi komunikasinya. Namun juga terkait dengan mentalitas, yaitu kesadaran manusia terhadap adanya perbedaan antara cara berpikir dan ungkapan lisan serta cara berpikir dan ungkapan tulis, yang berpengaruh terhadap kehidupan sosial budaya sehari-hari.
Dalam pengantarnya, peneliti Bisri Effendy mengatakan bahwa buku Kelisanan dan Keaksaraan mengandung semangat pembelaan Walter J Ong terhadap tradisi lisan, yang selama ini dipandang sebelah mata. Tradisi lisan memang tidak terbiasa mengungkapkan gagasan dalam urutan linier dan analitis yang biasa dibangun dengan bantuan teks. Tetapi tradisi lisan dapat menghasilkan pengorganisasian pikiran dan pengalaman yang kompleks, cerdas, dan indah, yang semua itu muncul dalam proses kerja memori lisan. Jadi tidak benar jika ada pandangan yang menempatkan tradisi lisan lebih terbelakang daripada tradisi tulisan.
Semangat Ong tersebut menyadarkan berbagai kalangan untuk menempatkan kelisanan pada posisi sama penting dengan keaksaraan. Kelisanan memberi pemahaman mendalam dan luas tentang fenomena sosial budaya komunitas. Di Indonesia Yayasan Obor Indonesia dan Yayasan Asosiasi Tradisi Lisan menerbitkan sejumlah buku ”Seri Tradisi Lisan Nusantara” yang didasarkan pada monografi atau hasil penelitian.
Beberapa buku yang diterbitkan yaitu Didong: Pentas Kreativitas Gayo yang ditulis M Junus Melalatoa (2001), Adat-Istiadat Orang Rembong Di Flores Barat (Roger Tol, 1997), Tuturan Tentang Pencak Silat Dalam Tradisi Lisan Sunda (Yus Rusyana, 1996), dan Metodologi Kajian Tradisi Lisan (2008).

Tradisi lisan yang tersebar luas di seluruh wilayah Nusantara merupakan perpustakaan hidup yang banyak mengungkapkan proses dinamika kebudayaan Nusantara. (YKR/LITBANG KOMPAS)